​⁠⁠⁠JADIKAN AR RAYAH SEBAGAI BARANG BUKTI TERORIS, POLRI KEMBALI INGIN KRIMINALKAN SIMBOL ISLAM

Barang Bukti Teroris versi Polri
Barang Bukti Teroris

Setelah Umat Islam mulai mengenal dan mencintai bendera Islam Al Liwa (bendera putih tulisan tauhid hitam) dan Ar Rayah (panji hitam tulisan tauhid putih), Polisi kembali memainkan dapur opininya untuk memonsterisasi bendera mulia ini.

Sebagaimana dilansir detikNews hari ini 15/12, Kadiv Humas Polri Irjen Rafli Amar melakukan jumpa pers untuk menunjukkan barang bukti teroris #BomPanci di Bekasi beberapa waktu yang lalu. Di antara barang bukti itu ada senapan angin, pisau, mandau, celurit, rice cooker, tabung reaksi, dan bendera Ar Rayah.
Tentu kita bertanya-tanya, kenapa Bendera Ar Rayah dimasukan sebagai barang bukti kegiatan teror? Sebagaimana dulu polisi juga pernah memasukkan Al Qur’an dan Kitab Tafsir sebagai barang bukti teroris.
Tujuan yang pasti dari semua itu adalah monsterisasi simbol-simbol Islam. Sungguh ini merupakan penghinaan yang keji dan keterlaluan.
Ketahuilah Pak Polisi, apapun tendensi kalian menempatkan bendera Ar Rayah itu sedemikian rupa, sehingga orang2 mengidentikkan bendera ini dengan kegiatan terorisme, adalah sebuah tindakan berbahaya yang harus kalian pertanggungjawabkan.
Kalian memang punya dapur opini yang bisa dengan mudah dimainkan, karena kalian adalah sumber berita. Teruskan saja propaganda busuk itu, tapi mohon ketahui bendera ini akan terus berkibar dalam dada kami, dan terus menyebar ke pelosok negeri yang damai ini.

.

*Titip salam buat pemain drama bom panci yang bikin masalah di negara ini tambah runyam.
Itu aja.

Ridwan Taufik Kurniawan, Pengasong Liwa Royah

Halb (ALEPPO)

​Ya Alloh selamatkan saudara-saudara kami di Halb (Aleppo).

Ya Alloh lindungi saudara-saudara kami di Halb (Aleppo).

Juga saudara-saudara kami di seluruh dunia.
Wahai penguasa negeri-negeri Muslim, mana pasukanmu yang Kalian pamerkan senjatanya, yang Kalian banggakan jumlahnya, yang Kau paradekan berkilo-kilo meter.
Wahai penguasa negeri-negeri Muslim, tunjukkan Dirimu sebagai pembawa kembalinya kejayaan Kekhilafahan Utsmani, sebagai pembela negeri tauhid, sebagai penguasa negeri Muslim terbesar, sebagai penguasa kekayaan alam terbesar … 
Saudara-saudara kalian di Halb (Aleppo) “menagih” bukti keimanan Kalian.

​ISLAM & KEBHINEKAAN

HTI-Press; Tema menarik digagas dalam acara Halaqoh Islam dan Peradaban (HIP) Hizbut tahrir Indonesia DPD II Purwakarta, yaitu “Islam dan Kebhinekaan” menarik, karena ini merupakan isu yang lagi hangat diperbincangkan masyarakat Indonesia, menarik karena ada pihak pihak tertentu yang mencoba meletakkan kebhinekaan sebagai tameng pelindung penistaan agama, menarik karena secara fakta masyarakat Indonesia memang bhineka, menarik tentu saja karena diulas dari sudut pandang Islam diulas oleh pakar yang memiliki kompetensi di bidangnya.

HIP kali ini dihelat di tempat iconic menarik yang sangat dikenal masyarakat Purwakarta tepatnya di Aula Gedung Rabbani Jl. RE. Martadinata Purwakarta hari Sabtu, 10 Desember 2016 dari pukul 08.30 sampai 11.30. tak kurang 300an elemen dan tokoh masyarakat antusias mengikuti acara ngaji yang dikemas modern ala HIP, tokoh masyarakat seperti Ustadz Asep jamaludin dari Tim Fatwa MUI purwakarta juga tidak ingin ketinggalan mengikuti acara ini hingga akhir.


Seperti pada umumnya acara dibuka oleh MC dilanjutkan dengan Tilawah Al-Qur’an dan sambutan sambutan, yang membedakan dengan acara lain adalah, pemaparan materi oleh pembicara yang begitu rinci menjelaskan dan mendudukkan persoalan kebhinekaan dan Islam, pemateri pertama DR.Waluyo Sukarsono,CES.,DEA Ketua HTI DPD II Purwakarta menjelaskan tentang makna kebhinekaan, beliau terutama menyoroti adanya upaya yang menjadikan kebhinekaan sebagai alat untuk memojokan Islam

Lebih jauh lagi, pembicara kedua Ustad Roni Ruslan selaku Pimpinan PonPes Darussalaam Purwakarta juga memaparkan isu yang paling panas saat ini, yaitu pemimpin kafir, beliau menjelaskan bahwa salah satu syarat seorang pemimpin adalah muslim, sehingga tidak diperbolehkan pemimpin kafir disamping syarat syarat lain seperti Baligh, Berakal dan Mampu.


Menariknya tema yang diangkat membuat peserta penasaran sehingga suasana diologis interaktif bener hidup dalam sesi Tanya jawab. Tak kurang 20an peserta mengangkat tangan saat moderator membuka sesi Tanya jawab, tetapi karena terbatasnya waktu, hanya 4 penanya yang diberi kesempatan dalam 2 termin. 

Pertanyaan dari peserta juga tidak kalah menarik, mulai isu Hari tanoe dengan Yayasan Peduli Pesantren, tafsir Al-Maidah 51, aksi 212, dijelaskan oleh pembicara bahwa itu bisa jadi merupakan bagian langkah terorganisir untuk mendapatkan simpati masyarakat dengan harapan bisa dipilih untuk jadi pemimpin, sebagai penutup Ust.Roni menjelaskan bahwa persoalan Ahox sebagai pemimpin kafir bukanlah persoalan utama, masalah pemimpin kafir juga ada di daerah lain. Justru sistem demokrasi inilah yg jadi masalah, demokrasi yang membuka jalan orang kafir bisa berkuasa. Solusinya adalah dengan Syariah Islam, seorang pemimpin “harus Muslim” dan “mau menjalankan hukum Syariah islam.

  Mengingat menariknya acara dan tema yang digagas muncul harapan harapan dari peserta agar acara semacam ini dilanjutkan dengan follow up berkelanjutan dan tidak berhenti selesai begitu acara HIP selesai, semoga tim Panitia acara bisa memenuhi harapan peserta dan membuat forum lanjutan dari acara ini. (Adam)

Akibat Buruk Bangga Bermaksiat & Berbuat Dosa

Maksiat
Maksiat sebab hilangnya keberkahan

Oleh: Badrul Tamam

Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada baginda Rasulillah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, keluarga dan para sahabatnya serta umatnya hingga akhir zaman.

Musibah terbesar yang menimpa jiwa adalah lalai dari petunjuk dan berpaling dari jalan lurus karena mengikuti hawa nafsu dan mengutamakan kehidupan dunia. Musibah ini bisa mematikan hati dan menghancurkan badan. Sehingga tepatlah jika Allah banyak mencela orang-orang yang lalai, menyebut mereka dengan sifat-sifat buruk, dan mengancam dengan siksa dahsyat.

Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ لَا يَرْجُونَ لِقَاءَنَا وَرَضُوا بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاطْمَأَنُّوا بِهَا وَالَّذِينَ هُمْ عَنْ آيَاتِنَا غَافِلُونَ أُولَئِكَ مَأْوَاهُمُ النَّارُ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami, mereka itu tempatnya ialah neraka, disebabkan apa yang selalu mereka kerjakan.” (QS. Yunus: 7-8)

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (QS. Al-a’raf: 179)

Orang-orang lalai lebih sesat daripada binatang ternak. Nerakalah balasan atas kelalaian mereka, dan neraka itu seburuk-buruk tempat tinggal. Hal itu disebabkan, mereka membatasi tujuan hidup mereka hanya pada makan, minum, dan mendapatkan kenikmatan. Mereka larut dalam hawa nafsu dan menikmati syahwat. Mereka lalai dari ketaatan kepada pencipta langit dan bumi, Allah Subhanahu wa Ta’ala. Telinga mereka tuli dari mendengarkan kebenaran. Mata mereka buta dari mengambil pelajaran. Hati mereka lengah dari al-haq. Ayat-ayat telah dibacakan kepada mereka dan argumentasi kebenaran pun telah ditegakkan, tapi mereka lalai dari semua itu. Pelajaran-pelajaran besar tidak dihiraukan. Peringatan-peringatan tidak diindahkan. Mereka larut dalam kesenangan dan kelalaian. Angan-angan mereka terlalu panjang sehingga melalaikan dari ketaatan dan tidak meninggalkan kesesatan. Lalu datang siksa Allah secara tiba-tiba saat mereka larut dalam kemaksiatannya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَكَمْ مِنْ قَرْيَةٍ أَهْلَكْنَاهَا فَجَاءَهَا بَأْسُنَا بَيَاتًا أَوْ هُمْ قَائِلُونَ * فَمَا كَانَ دَعْوَاهُمْ إِذْ جَاءَهُمْ بَأْسُنَا إِلَّا أَنْ قَالُوا إِنَّا كُنَّا ظَالِمِينَ

Betapa banyaknya negeri yang telah Kami binasakan, maka datanglah siksaan Kami (menimpa penduduk) nya di waktu mereka berada di malam hari, atau di waktu mereka beristirahat di tengah hari. Maka tidak adalah keluhan mereka di waktu datang kepada mereka siksaan Kami, kecuali mengatakan: “Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zalim”.” (QS. Al-A’raf: 4-5)

Mereka menyadari kesalahan, tapi tidak lekas taubat. “Maka mengapa mereka tidak memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri ketika datang siksaan Kami kepada mereka, bahkan hati mereka telah menjadi keras dan setan pun menampakkan kepada mereka kebagusan apa yang selalu mereka kerjakan. Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami-pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa. Maka orang-orang yang lalim itu dimusnahkan sampai ke akar-akarnya. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. Al-An’am: 43-45)

Di antara fenomena kerasnya hati dan lalai dari mendekatkan diri kepada penguasa alam raya, manusia tidak menghiraukan peringatan Allah dalam Kitabnya dan terus-menerus bermaksiat di sepanjang waktu, baik siang atau malam. Kebanyakan mereka terus melakukan perbuatan yang mendatangkan kemurkaan-Nya. Riba yang Allah nyatakan perang terhadap pelakunya marak dilakukan dan menjadi satu sistem yang tak bisa lepas dari perekonomian mereka. Hampir semua pedagang dan pebisnis, baik muslim atau non-muslim, tidak lepas darinya.

Begitu juga urusan shalat. Banyak orang secara terang-terangan meninggalkannya. Masjid-masjid sepi dari shalat berjamaan kecuali pada momen-momen tertentu saja.

Demikian pula dengan puasa. Saat sudah sampai dipertengahan bulan, orang-orang sudah tidak lagi sungkan makan, minum, merokok di jalanan. Padahal penduduk negeri ini mayoritas muslim.

Dalam urusan harta, kebanyakan orang enggan mengeluarkan sebagian dari rizki yang telah Allah anugerahkan untuk zakat, infak dan sedekah. Mereka lebih suka menghabiskan harta untuk menuruti syahwat haramnya.

Berapa banyak rumah-rumah kaum muslimin yang diisi dengan patung, lukisan dan film-film yang menjijikkan. Suara musik dan nyanyian yang menjauhkan malaikat rahmat dari memasukinya. Kaum wanitanya, terbiasa keluar rumah dalam kondisi telanjang mengungmbat auratnya. Dan masih banyak lagi kemungkaran-kemungkaran lainnya yang dipertontonkan di tengah masyarakat yang mayoritas beragama Islam ini.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ أَفَأَمِنَ أَهْلُ الْقُرَى أَنْ يَأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا بَيَاتًا وَهُمْ نَائِمُونَ أَوَأَمِنَ أَهْلُ الْقُرَى أَنْ يَأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا ضُحًى وَهُمْ يَلْعَبُونَ أَفَأَمِنُوا مَكْرَ اللَّهِ فَلَا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ أَوَلَمْ يَهْدِ لِلَّذِينَ يَرِثُونَ الْأَرْضَ مِنْ بَعْدِ أَهْلِهَا أَنْ لَوْ نَشَاءُ أَصَبْنَاهُمْ بِذُنُوبِهِمْ وَنَطْبَعُ عَلَى قُلُوبِهِمْ فَهُمْ لَا يَسْمَعُونَ

Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur? Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain? Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiadalah yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang-orang yang merugi. Dan apakah belum jelas bagi orang-orang yang mempusakai suatu negeri sesudah (lenyap) penduduknya, bahwa kalau Kami menghendaki tentu Kami azab mereka karena dosa-dosanya; dan Kami kunci mati hati mereka sehingga mereka tidak dapat mendengar (pelajaran lagi)?” (QS. Al-A’raf: 96-100)

Sungguh tidaklah Allah menyiksa suatu kaum melainkan saat mereka lalai dan menyimpang. Mereka tertipu dengan kenikmatan-kenikmatan duniawi yang diperolehnya. Maka jika engkau lihat Allah memberikan dunia melimpah kepada manusia di atas kemaksiatan terhadap-Nya, ketahuilah, Allah sedang ingin menarik mereka kepada kebinasaan secara berlahan-lahan dengan cara yang tidak mereka ketahui. “Dan Aku memberi tangguh kepada mereka. Sesungguhnya rencana-Ku amat teguh.” (QS. Al-A’raf: 183)

Kesengajaan melakukan kesalahan, terang-terangan melakukan kemaksiatan, mengulang-ulang perbuatan dosa, dan meremahkan ancaman Allah merupakan kezaliman di atas kezaliman. Karenanya Allah menyiapkan hukuman berat atas dosa besar ini sehingga mengharamkan ampunan-Nya atas mereka.

وَلَيْسَتِ التَّوْبَةُ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ حَتَّى إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ إِنِّي تُبْتُ الْآنَ وَلَا الَّذِينَ يَمُوتُونَ وَهُمْ كُفَّارٌ أُولَئِكَ أَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا

Dan tidaklah tobat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan: “Sesungguhnya saya bertobat sekarang” Dan tidak (pula diterima tobat) orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan siksa yang pedih.” (QS. Al-Nisa’: 18)

Allah menyamakan orang yang terus-menerus melakukan dosa sehingga kematian menjemput dan orang yang tetap kafir sampai datangnya kematian dengan ditiadakan taubat dari mereka. Wal’iyadhu billah!

Dalam hadits shahih disebutkan, “Setiap umatku dimaafkan (kesalahannya) kecuali al-mujahirun.” Yakni orang yang berbangga dengan kemaksiatannya dan tidak lekas bertaubat dengan meninggakan dosa.

. . . Hindari sikap berbangga dengan maksiat dan jangan terus-menerus mengerjakannya. Jangan remehkan ancaman Allah dan siksa-Nya. Sungguh semua itu adalah sebab datangnya kebinasaan. . .

Karenanya wahai saudaraku, teruslah bertakwa kepada Allah. Bersungguh-sungguhlah dalam menjalankan ketaatan kepada-Nya. Hindari sikap berbangga dengan maksiat dan jangan terus-menerus mengerjakannya. Jangan remehkan ancaman Allah dan siksa-Nya. Sungguh semua itu adalah sebab datangnya kebinasaan. Jika Anda tergelincir kepada kesalahan segeralah menyesal dan bertaubat sebelum habis kesempatan. Sesungguhnya setiap anak Adam (manusia) pastilah berbuat salah, namun sebaik-baik mereka yang berbuat salah adalah mereka yang segera bertaubat.

Perbaiki hati dari kerusakannya dan titilah jalan kebenaran dalam ucapan, perbuatan dan mu’amalah kalian, semoga Allah akan memperbaiki kondisi kalian. Wallahu Ta’ala A’lam. [PurWD/voa-islam.com]

Menilai Tangisan Ahok

Ahok
Ahok

Diawal sidang perdananya saat membaca nota keberatannya Ahok menangis, tangisan ini Ahok ini sebenarnya cukup mengangetkan karena Ahok selama ini dikenal keras dan tidak takut apapun dengan apa yabg dia jalani, tapi tangisan ini bisa di tafsirkan berbeda-beda. Mungkin orang menganggap ini adalah drama atau mungkin ini membuktikan bahwa Ahok memang manusia yang punya kelemahan.
Bagaimana menilai tangisan ini? Saya lebih cenderung ingin membandingkan tangisan Ahok dan tangisan Jesica di persidangannya. Meskipun kasusnya berbeda tapi mereka sama-sama menangis. Ketika diawal kasus pembunuhan Mirna mencuat ke publik, Jessica kerap mendapatkan cemooh dari publik. Bisa dikatakan bahwa jesica telah kalah dipengadilan publik sebelum kalah dimeja hijau. Bahkan pada awal persidangan menurut pengacaranya jesica mendapat perlakuan tidak menyenangkan.

Menurut beberapa Ahli psikolog menganggap pribadi jesica memang adalah pribadi yang kuat dan tegar dalam menghadapi masalah termasuk masalah pembunuhan Mirna ini. Namun tetap saja jesica adalah manusia, hal itu terbukti pada saat jesica membacakan pledoi pembelaan dirinya didepan majelis hakim, jesica menangis. Tangisan ini sepertinya mempunyai efek, meski jesica tetap dijatuhkam hukuman 20 tahun namun menurut pengacaranya Otto Hasibuan yang mengklaim kliennya mendapat dukungan luar biasa besar dari masyarakat di dalam dan luar negeri terkait kasus yang dihadapinya, hingga orang-orang yang awalnya mencemooh kini berbalik mendukung.
Jika kita membandingkan sebenarnya, meskipun saat ini Ahok telah kalah pada pengadilan publik. Dan dia juga menyadari bahwa untuk lepas dari hukuman meja hijau juga akan sulit. Sehingga Tangisan Ahok bisa saja adalah bagian untuk meminta ampun pada publik mencari simpati publik. Hal itu ditegaskan dengan beberapa kali Ahok meminta maaf kepada umat islam sebelum sidang perdananya dimulai.
Jadi, jika nanti Ahok tetap di hukum dengan putusan hakim pengadilan dengan penjara 5 tahun. Mungkin saja bagi Ahok dengan menangis dia bisa selamat dr penghakiman publik khususnya umat islam terhadap dirinya, karena dengan menangis publik akan simpatik dan dukungan akan datang sebagaimana yang dialami oleh Jesica.
-Muslim Analyze

Oleh:

Imaduddin Al Faruq

Kreatif, Inovatif, Objektif