Negeri Kaya Pangan yang Terabaikan

Ilustrasi Padi kuning

Oleh : Uty (Aktivis Dakwah Karawang)

Seperti kita ketahui media belakangan ini memberitakan bahwa ada ungkapan seorang menteri Kordinator Pembangunan Manusia Dan Kebudayaan (menko PMK). Puan maharani, menyatakan ” kebiaasaan makan nasi lahirkan potensi impor beras ” beliau menyampaikan hal itu terkait kondisi pangan akhir-akhir ini yang semakin memburuk di mana harga pangan yang melambung dan cenderung tidak stabil.

Namun mengherankan, bukankah yang kita ketahui nasi makanan pokok orang indonesia? Padahal orang Indonesia  sering berkata ‘”rasanya belum makan kalau belum ketemu nasi”, Lalu Apakah kita harus menghilangkan kebiasaan makan nasi?.

Memang ungkapan “polos” ini merupakan gambaran nyata negeri dengan potensi kekayaan pangan yang melimpah, namun di kelola oleh aparatur negara yang tidak memiliki konsep ketahanan pangan sehingga semua potensi ini terabaikan begitu saja.

Persoalan politik saat ini adalah keberpihakan, kepada siapakah pemerintah berpihak pemodal ( pengendali ketersedian pangan) atau kepada masyarakat banyak. Ketiadaan jaminan pemerintah inilah yang pada akhirnya mencerminkan ketidakpedulian pemerintah dalam masalah pangan.

Negeri ini memang memiliki aturan perundang-undangan terkait ketahanan pangan, namun wujud nyatanya sulit dirasakan oleh masyarakat. Pemerintah cenderung kurang siap menghadapi fluktuasi harga yang terus melambung, dan sepertinya sistem kapitalislah yang menyebabkan ketidakstabilan pangan tersebut karena sistem ini lebih mementingkan pemodal daripada rakyatnya.

Berbeda dengan sistem islam. Negara bertanggung jawab dalam menjamin ketersedian pangan untuk rakyatnya. Karena negara adalah “pelayan” yang akan diminta pertanggung jawabanya di hadapan Alloh kelak.

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ فَالْأَمِيرُ الَّذِيعَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعٍيَّتِه“

“Ketahuilah, setiap kalian adalah pemimpin,dan setiap kalian bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya. Seorang pemimpin yang memimpin manusia akan bertanggung jawab atas rakyatnya” (HR. Muslim)

Negara akan benar-benar menjamin harga pasar yang alami dan adil. Dan khilafah akan mengaturnya sesuai syariat islam. Salah satunya dengan menjamin ketersedian supply bukan dengan mematok harga karena mematok harga pasar di haramkan dalam islam.

Anas ra. menceritakan :غَلاَ السِّعْرُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ e فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ سَعِّرْ لَنَا.فَقَالَ »إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمُسَعِّرُ الْقَابِضُ الْبَاسِطُ الرَّزَّاقُ وَإِنِّى لأَرْجُو أَنْ أَلْقَى رَبِّى وَلَيْسَ أَحَدٌ مِنْكُمْ يَطْلُبُنِى بِمَظْلَمَةٍ فِى دَمٍ وَلاَ مَالٍ

” Harga meroket pada masa Rasulullah saw lalu mereka (para sahabat) berkata: “ya Rasulullah patoklah harga untuk kami”. Maka Beliau bersabda: “sesungguhnya Allahlah yang Maha Menentukan Harga, Maha Menggenggam, Maha Melapangkan dan Maha Pemberi Rezki dan aku sungguh ingin menjumpai Allah dan tidak ada seorang pun dari kalian yang menuntutku karena kezaliman dalam hal darah dan harta (HR at-Tirmidzi, Ibn Majah, Abu Dawud, ad-Darimi, Ahmad)

Jelaslah sudah bahwa kesempurnaan politik ketahanan pangan hanya dapat di terapkan dengan sistem islam secara sempurna yaitu dengan tegaknya daulah khilafah. (DW)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s