Sibuk Memikirkan Kepunyaan Orang Lain, Celakalah!

image

SEORANG lelaki sudah menggenggam sebuah ketela pohon di tangannya, namun dalam pikirannya tergiur dengan roti yang sedang dimakan orang lain tak jauh dari tempatnya berada. Perlahan, disembunyikannya ketela pohon yang pada awalnya hendak digunakan menghilangkan rasa lapar. Dirinya merasa malu kalau sampai ada orang lain yang tahu makanannya hanya ketela. Kemudian pikirannya berhayal andai saja dirinya yang memakan roti itu, pasti bangga sekali rasanya. Apalagi roti itu cukup mahal harganya.

Tak berapa lama, orang yang makan roti itu pergi. Kemudian lelaki itu memakan ketela namun entah apa sebabnya dirinya menjadi kehilangan selera. Bayangan roti yang lezat masih membekas dalam ingatan, kemudian lelaki itu membuang ketela yang ada di tangannya.

Tepat pada saat dibuang, ada anak gelandangan yang kelaparan dan memungut ketela itu lalu memakannya dengan lahap. Melihat anak gelandangan itu makan begitu lahap ketela yang dibuangnya tadi, lelaki itu baru tersadar, sesungguhnya kenikmatan makanan itu bersumber dari rasa syukur karena apapun yang dimakan tujuannya adalah menghilangkan rasa lapar.

Begitulah yang kerap terjadi dalam hidup. Kita seringkali terlalu sibuk memikirkan kepunyaan orang lain hingga lupa bersyukur dengan apa yang kita miliki. Padahal, segala sesuatu yang dimiliki setiap manusia sejatinya ialah titipan Allah. Apabila kita tidak bersyukur atas apa yang sudah Allah titipkan, bagaimana mungkin Allah akan memberikan yang lebih. Sementara hati kita dipenuhi rasa iri, bahkan kerap berprasangka buruk kepada-Nya dengan menyebutkan Allah tidak bersikap adil pada hamba-Nya.

Bila seorang hamba sudah memiliki prasangka buruk kepada Sang Maha Pencipta, lalu bagaimana mungkin keberkahan bisa singgah dalam jiwanya? Padahal Allah telah menitipkan rezeki yang bisa dimanfaatkan, perihal seberapa banyak itu bergantung dari kesanggupan hati untuk bersyukur.

Sesungguhnya, masih beruntung apabila kita diberi titipan rezeki yang bisa jadi lebih baik dari orang lain. Tugas kita jangan hanya melihat orang-orang yang kehidupan ekonominya jauh di atas kita, tetapi juga lihatlah kehidupan ekonomi orang-orang yang berada di bawah kita, sehingga akan menumbuhkan syukur dengan segala nikmat rezeki yang dilimpahkan-Nya.

Bersyukurlah dengan nikmat Allah yang sudah diberikan pada kita, Insya Allah atas kehendak-Nya hidup kita akan merasakan kenikmatan yang luar biasa. Terpenting, segala yang kita miliki diperoleh dengan cara yang halal, karena rezeki yang diperoleh dengan halal akan membawa berkah. []

Arief Siddiq Razaan, 05 Februari 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s