Perbandingan Pendapat Hukum Memakai Cadar bagi Muslimah(Bag1)

image

Pernyataan bahwa wanita dalam Islam wajib mengenakan hijab untuk menutupi seluruh wajahnya, kecuali kedua matanya, dapat dikategorikan sebagai pendapat yang Islami. Pendapat tersebut telah dikemukakan oleh sebagian imam mujtahid dari berbagai mazhab yang ada. Sebaliknya, pernyataan bahwa hijab tidak diwajibkan atas wanita dalam Islam—sehingga seorang Muslimah tidak perlu menutupi wajahnya secara penuh karena wajah memang bukan aurat—juga merupakan pendapat yang Islami.
Pendapat yang terakhir ini juga telah dikemukakan oleh sebagian pemuka mujtahid dari berbagai mazhab. Persoalan ini merupakan salah satu persoalan penting dalam sistem interaksi antara pria dan wanita. Sementara itu, upaya untuk mengadopsi pendapat mana pun di antara kedua pendapat di atas akan mempengaruhi corak kehidupan Islam. Untuk itu, tentu perlu dikemukakan dalil-dalil syariat yang terkait dengan persoalan ini secara menyeluruh. Caranya adalah dengan mempelajari dan mengkaji dalil-dalil tersebut serta menerapkannya pada persoalannya. Dengan cara seperti itu, kaum Muslim dapat mengadopsi pendapat yang paling kuat dalilnya, dan Daulah Islamiyah sendiri dapat mengadopsi pendapat yang paling valid dengan didasarkan pada kekuatan dalilnya.
Memang benar, wacana (perdebatan) di seputar wanita ini telah muncul sejak setengah abad yang lalu. Perdebatan tersebut banyak dipicu oleh kaum kolonialis kafir dan dihembuskan ke dalam jiwa orang-orang yang tertipu oleh Barat serta orang-orang yang haus dengan kebudayaan dan cara pandang Barat dalam menentukan arah hidupnya. Mereka yang telah ter-Barat-kan ini selanjutnya berusaha untuk memalingkan Islam dengan melontarkan pendapat-pendapat yang bertentangan dengan Islam; berupaya untuk memutarbalikkan arah pandangan kaum Muslim; serta berusaha untuk mempropagandakan gagasan tentang hijab dan larangan berhijab. Alih-alih dihadapi oleh para ulama pemikir, mereka malah dihadapi oleh para pengarang buku, para sastrawan, dan para intelektual yang berpikiran jumud, yang justru memperkuat pendapat-pendapat-mereka yang memang telah dibentuk oleh Barat. Gagasan-gagasan mereka lantas dijadikan sebagai topik perbincangan dan pengkajian, meskipun gagasan-gagasan tersebut bersumber dari Barat yang sengaja dilontarkan untuk menyerang Islam, merusak kaum Muslim, serta menyebarluaskan keragu-raguan dalam diri kaum Muslim terhadap agama mereka.

Memang benar, perdebatan semacam ini pernah muncul dan pengaruhnya masih terasa hingga kini. Akan tetapi, pembahasannya tidak sampai matang, serta tidak sampai pada level pengkajian yang didasarkan pada syariat ataupun dikaitkan dengan aspek interaksi pria-wanita. Padahal, pengkajian semacam ini termasuk ke dalam pembahasan hukum-hukum syariat yang digali oleh para mujtahid yang disandarkan pada dalil atau syubhah-dalîl (sesuatu yang mirip atau terkategori dalil, pen); bukan termasuk ke dalam pengkajian pendapat para pengarang buku, orang-orang upahan, orang-orang bodoh yang tertipu, atau para propagandis yang haus akan kebudayaan Barat. Dengan kata lain, yang dijadikan topik pengkajian dan bahan diskusi dalam masalah syariat adalah pendapat para mujtahid yang digali dari sejumlah dalil syariat. Di samping itu, topik pengkajian dan bahan diskusi dalam masalah ini, juga terkait dengan berbagai pendapat para ahli fikih dan para syaikh yang senantiasa fanatik terhadap hijab sehingga dapat menyingkirkan kesamaran dalam diri mereka.

Oleh karena itu, kami akan memaparkan sejumlah pendapat para mujtahid disertai dengan dalil-dalilnya, sehingga akan tampak pendapat yang dinilai paling layak. Siapa saja yang telah menemukan pendapat yang dianggap paling layak, wajib untuk mengamalkan pendapat tersebut serta merealisasikannya.

Kalangan yang mewajibkan wanita Muslimah untuk mengenakan hijab atas wajah menyatakan bahwa, aurat wanita meliputi seluruh anggota badan. Pengecualian wajah dan kedua telapak tangan hanya berlaku dalam shalat saja. Di luar waktu shalat, menurut mereka, seluruh anggota tubuh wanita adalah aurat. Pendapat mereka disandarkan pada al-Quran dan Sunnah Nabi saw.

Dari al-Quran, mereka mengutip firman Allah Swt. sebagai berikut:

Jika kalian meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi), hendaklah kalian memintanya dari belakang tabir (hijab). (QS al-Ahzâb [33]: 53)

Ayat ini menerangkan dengan jelas bahwa, hijab memang diwajibkan atas wanita. Allah Swt. juga berfirman:

Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang Mukmin, hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah dikenal sehingga mereka tidak diganggu. (QS al-Ahzâb [33]: 59)

Mereka berpendapat bahwa, kalimat yudnîna ‘alayhinna min jalâbîbihinna bermakna mengulurkan hijab atas seluruh tubuh mereka, termasuk wajah dan kedua telapak tangan mereka. Mereka berpendapat bahwa, para wanita di masa permulaan Islam masih mempraktekan adat kebiasaan Jahiliah, yaitu terbiasa mengenakan pakaian rumah dan memakai kerudung, sehingga tidak ada perbedaan antara wanita merdeka dengan wanita hamba sahaya (budak). Para pemuda iseng di jalanan sering mengganggu para budak wanita yang keluar malam hendak membuang hajat di bawah pohon atau tempat-tempat yang biasa mereka gunakan. Mungkin saja, mereka juga mengganggu para wanita merdeka yang mereka sangka sebagai budak-budak wanita. Mereka sering mengatakan, ‘Saya kira, dia budak’.

Setelah itu, turunlah perintah kepada para wanita (merdeka) untuk membedakan diri dengan para wanita hamba sahaya dengan cara mengenakan baju dan milhafah (sejenis kain panjang) serta penutup kepala dan wajah (kerudung). Dengan pakaian semacam ini, mereka akan tampak lebih terhormat dan tidak menjadi obyek gangguan dari mereka yang memiliki sifat tamak. Dengan pakaian semacam ini pula, mereka akan lebih dikenal sehingga para lelaki iseng tidak mengganggu mereka atau berbuat sesuatu yang dibenci oleh mereka.

Di antara mereka, ada yang mengatakan bahwa, kalimat adnâ an yu‘rafna pada ayat di atas diketahui melalui kata lâ yang mahdzûfah (dihilangkan) yang bermakna agar mereka tidak diketahui cantik atau tidaknya sehingga mereka tidak diganggu. Allah Swt. berfirman:

Hendaklah kalian tetap di rumah-rumah kalian dan janganlah kalian berhias sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang Jahiliah dulu. (QS al-Ahzâb [33]: 33)

Sementara itu, yang bersumber dari Sunnah Nabi saw., mereka mengutip riwayat bahwa Nabi saw. telah bersabda:

أَلْمَرْأَةُ عَوْرَةٌ.

Wanita itu adalah aurat.

إِذَا كَانَ لإِحْدَاكُنَّ مُكَاتِبٌ فَمَلَكَ مَا يُؤَدِّي فَلْتَحْجِبْ مِنْهُ.

Apabila telah ada seorang mukâtib (yang hendak memerdekakan budak) bagi salah seorang budak wanita dan ia memiliki (harta) untuk membayarnya, hendaklah budak wanita yang akan dimerdekakan itu dihijab dari (pandangan) tuannya.

Selain itu, Ummu Salamah pernah menuturkan riwayat sebagai berikut:

كُنْتُ قَاعِدَةٌ عِنْدَ النَّبِيِّ r أَنَا وَحَفْصَةٌ فَاسْتَأْذَنَ إِبْنُ أُمِّ مَكْتُمْ، فَقَالَ النَّبِيُّ r إِحْتَجِبْنَ مِنْهُ. فَقُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنَّهُ ضَرِيْرٌ لاَ يُبْصِرُ. قَالَ: أَفَعَمْيَاوَانِ أَنْتُمَا لاَ تُبْصِرَانَهُ؟

Aku pernah duduk di sisi Nabi saw. bersama Hafshah. Kemudian datanglah Ibn Ummi Maktum meminta izin. Setelah itu, Nabi saw. bersabda, “Kenakanlah hijab di hadapannya.” Aku berkata, “Ya Rasulullah, sesungguhnya dia itu buta, tidak bisa melihat.” Beliau lantas bersabda, “Apakah kalian berdua juga buta dan tidak melihatnya?”

Ada juga riwayat yang menyebutkan demikian:

كَانَ اْلفَضْلُ بْنُ الْعَبَّاسِ رَدَيْفَ النَّبِيِّ r فَجَاءَتْهُ الْخَثْعَمِيَّةُ تَسْتَفْتِيْهِ فَجَعَلَ اْلفَضْلُ يَنْظُرُ إِلَيْهَا وَتَنْظُرُ إِلَيْهِ فَصَرَفَ رَسُوْلُ اللهِ r وَجْهَهُ عَنْهَا

Fadhl ibn ‘Abbas pernah (menaiki tunggangan berboncengan dengan) Rasulullah saw. Kemudian datanglah seorang wanita bernama Khuts‘amiyah untuk meminta pendapat. Fadhl lalu memandang wanita itu dan wanita itu pun memandangnya, sehingga Rasulullah saw. memalingkan wajahnya dari wanita tersebut. (HR Abû Dâwud)

Jarîr ibn ‘Abdillâh juga menuturkan:

سَأَلْتُ رَسُوْلَ اللهِ r عَنْ نَظْرَةِ الْفُجَاءَةِ فَأَمَرَنِيْ أَنْ أُصْرِفَ بَصَرِيْ.

Aku pernah bertanya kepada Rasulullah saw. mengenai pandangan yang tiba-tiba (tidak disengaja). Beliau kemudian menyuruhku untuk memalingkan pandanganku.

‘Alî r.a. menuturkan bahwa Rasulullah saw. juga pernah bersabda kepadanya demikian:

لاَ تُتْبِعِ الْنّظْرَةَ النَّظْرَةَ فَإِنَّمَا لَكَ اْلُأوْلىَ وَلَيْسَتْ لَكَ اْلآخِرَةُ.

Janganlah engkau mengikuti pandangan pertama dengan pandangan berikutnya. Pandangan pertama adalah hakmu sedangkan pandangan berikutnya bukanlah hakmu.

Dalil-dalil di atas dilontarkan oleh kalangan yang berpendapat bahwa wanita wajib untuk mengenakan hijab dan bahwa seluruh tubuh wanita adalah aurat. Seluruh dalil yang dijadikan sandaran mereka tersebut pada dasarnya tidak relevan dengan permasalahan ini. Seluruh dalil di atas tidak berkaitan dengan topik ini. Firman Allah Swt. yang berbunyi, Waqarna fî buyûtikunna (Hendaklah kalian tetap di rumah-rumah kalian—QS al-Ahzâb [33]: 33), tidak ada hubungannya sama sekali dengan kaum Muslimah secara keseluruhan. Kedua ayat di atas (maksudnya ayat ke-33 dan, sebelumnya, ayat ke-32, pen) tersebut dikhususkan bagi istri-istri Rasulullah saw. Makna kedua ayat tersebut sangat jelas jika dibaca secara keseluruhan. Keduanya, satu sama lain, saling berkaitan, baik dari segi lafal maupun maknanya.

Sementara itu, Allah Swt. berfirman:

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian memasuki rumah-rumah Nabi saw., kecuali jika kalian diizinkan untuk makan tanpa menunggu-nunggu waktu masak (makanannya). Akan tetapi, jika kalian diundang, masuklah. Jika kalian telah selesai makan, hendaklah kalian keluar tanpa asyik memperpanjang percakapan. Sesungguhnya hal itu akan mengganggu Nabi, sementara ia malu kepada kalian (untuk menyuruh kalian keluar), sedangkan Allah tidak merasa malu menerangkan yang benar. Jika kalian meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi saw.), mintalah kalian dari belakang tabir. Cara semacam itu lebih suci bagi hati kalian dan hati mereka. Kalian tidak boleh menyakiti hati Rasulullah dan tidak pula mengawini istri-istrinya selamanya sesudah ia wafat. Sesungguhnya perbuatan itu amat besar (dosanya) di sisi Allah. (QS al-Ahzâb [33]: 53)

Ayat ini terkait dengan istri-istri Nabi dan khusus ditujukan kepada mereka; tidak ada hubungannya dengan kaum Muslimah atau wanita mana pun selain istri-istri Nabi saw. Yang memperkuat bahwa ayat ini khusus ditujukan bagi istri-istri Rasulullah saw. adalah hadis yang diriwayatkan dari ‘Aisyah r.a. ketika beliau bertutur demikian:

كُنْتُ أَكِلٌ مَعَ النَّبِيِّ r حَيْسًا فِيْ قَصْعَةٍ، فَمَرَّ عُمَرَ فَدَعَاهُ فَأَكَلَ، فَأَصَابَتْ إِصْبَعُهُ إِصْبَعِيْ فَقَالَ عُمَرَ: أَوَاهٍ لَوْ أُطَاعٌ فَيَكُنْ مَا رَأَتْكُنَّ عَيْنٌ، فَنَزَلَ اْلحِجَابُ.

Aku sedang makan bersama Nabi saw. dengan memakan jenis makanan dari kurma dalam sebuah mangkuk. Tiba-tiba datanglah ‘Umar. Ia lalu dipanggil oleh Nabi saw. untuk makan bersama-sama hingga jari-jemarinya menyentuh jemariku. ‘Umar lantas berkata, “Ah, seandaiya saja ditaati, niscaya engkau tidak akan dipandang oleh mata.” Setelah itu, turunlah ayat mengenai hijab.

‘Umar r.a. juga bertutur demikian:

قُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ r يَدْخُلُ إِلَيْكَ الْبَرُّ وَاْلفَاجِرُ، فَلَوْ حِجَبْتُ أُمَّهَاتِ الْمُؤْمِنِيْنَ. فَأَنْزَلَ اللهُ أَيَةَ الْحِجَابِ.

Aku berkata, “Ya Rasulullah, orang-orang yang masuk secara bergiliran (ke rumah Nabi saw.) ada yang baik dan ada pula yang jahat. Bagaimana seandainya istri-istri para ibu kaum Mukmin itu mengenakan hijab?” Setelah itu, Allah Swt. menurunkan ayat tentang hijab.

Ada pula riwayat yang menyebutkan bahwa, ‘Umar r.a. pernah berjalan melewati istri-istri Nabi saw., sementara mereka sedang bersama dengan kaum Muslimah lain di Masjid. ‘Umar lantas berkata, ‘Andai saja mereka mengenakan hijab, hal itu lebih utama bagi mereka atas kaum wanita lainnya, sebagaimana mereka menikahi lelaki yang paling utama (Muhammad saw.)’.

Zaynab r.a. kemudian menimpali, ‘Wahai Ibn al-Khaththâb, sesungguhnya Anda tertipu oleh kami, karena wahyu itu turun di rumah kami’.

Tidak lama kemudian, ayat tentang hijab turun.

Apa yang tercantum dalam ayat maupun hadis di atas menunjukkan secara pasti bahwa semua itu ditujukan kepada istri-istri Nabi saw. dan tidak diperuntukkan bagi kaum Muslimah lainnya.

Sementara itu, potongan ayat yang berbunyi, Waqarna fî buyûtikunna (Hendaklah kalian tetap tinggal di rumah-rumah kalian), juga khusus ditujukan kepada istri-istri Rasulullah saw. Lengkapnya teks ayat ini berbunyi sebagai berikut:

Wahai istri-istri Nabi saw., kalian tidaklah sama dengan wanita lain, jika kalian bertakwa. Oleh karena itu, janganlah kalian tunduk dalam berbicara sehingga menimbulkan hasrat orang yang ada penyakit di dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik. Hendaklah kalian tetap tinggal di rumah-rumah kalian dan janganlah kalian berhias sebagaimana orang-orang Jahiliah dulu. Dirikanlah oleh kalian shalat, tunaikanlah zakat, serta taatilah Allah Swt. dan Rasulullah saw. Sesungguhnya Allah Swt. bermaksud hendak menghilangkan kotoran dari kalian, wahai Ahlul Bait, dan membersihkan kalian sebersih-bersihnya. (QS al-Ahzâb [33]: 32-33)

Inti ayat ini jelas ditujukan khusus kepada istri-istri Nabi saw., karena seruannya pun hanya ditujukan kepada mereka, sebagaimana kalimat awal yang tercantum dalam ayat tersebut, yakni ungkapan, Yâ nisâ’ an-Nabî, lastunna ka’ahadin min an-nisâ’ (Wahai istri-istri Nabi saw., kalian tidaklah sama dengan wanita lain).

Tidak ada suatu petunjuk atau indikasi apa pun di dalam nash ini melainkan khusus ditujukan kepada istri-istri Nabi saw. Di akhir ayat itu sendiri terdapat tekanan, Innamâ yurîdullâhu liyudzhiba ‘ankum ar-rijsa ahlul bayti wa yuthahhirakum tathhîrâ (Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan kotoran dari kalian, wahai ahlul bait, dan membersihkan kalian sebersih-bersihnya).

Ayat ini juga menerangkan bahwa sifat tersebut khusus ditujukan kepada istri-istri Nabi saw. Mereka diperintahkan untuk melaksanakan apa yang telah dititahkan kepada mereka agar mereka dibebaskan dari kotoran dan disucikan, karena mereka termasuk ke dalam ahlul bait (keluarga) Nabi saw. Penegasan ini secara langsung terdapat pula pada ayat berikutnya setelah firman-Nya, wa yuthahhirakum tathhîrâ, yang berfungsi sebagai penguat. Ayat tersebut berbunyi:

Ingatlah oleh kalian (istri-istri Nabi) ayat-ayat Allah dan hikmah (sunnah Nabi) yang dibacakan di rumah-rumah kalian. Sesungguhnya Allah Mahalembut lagi Mahatahu. (QS al-Ahzâb [33]: 34)

Ayat ini menyebutkan bahwa rumah-rumah para istri Nabi saw. adalah tempat turunnya wahyu. Ayat ini juga memerintahkan mereka agar tidak melupakan ayat-ayat yang dibacakan di dalam rumah mereka.

Kedua ayat di atas secara jelas ditujukan khusus bagi istri-istri Nabi saw.; tidak ada satu petunjuk pun di dalamnya bahwa ketetapan hukumnya berlaku juga bagi para wanita Muslimah lain selain mereka. Di dalam ayat tersebut terdapat pula seruan yang juga ditujukan secara khusus bagi istri-istri Rasulullah saw., misalnya firman Allah Swt. yang berbunyi:

….Tidak pula kalian mengawini istri-istrinya selamanya setelah ia wafat. (QS al-Ahzâb [33]: 53)

Artinya, istri-istri Nabi saw. tidak boleh menikah setelah beliau wafat. Kenyataan ini berbeda dengan para wanita Muslimah lainnya, karena mereka boleh menikah jika telah lepas dari suaminya. Dengan demikian, kedua ayat mengenai hijab di atas khusus ditujukan bagi istri-istri Nabi saw., sebagaimana larangan bagi mereka untuk menikah setelah beliau wafat.

Di sini tidak berlaku kaidah berikut:

اَلْعِبْرَةُ بِعُمُوْمِ اللَّفْظِ لاَ بِخُصُوْصِ السَّبَبِ

Berlakunya hukum ditentukan oleh umumnya lafal, bukan oleh khususnya sebab.

Dalam konteks ini tidak bisa disimpulkan bahwa sebab turunnya ayat tersebut memang khusus berkaitan dengan istri-istri Nabi saw., tetapi patokan hukumnya berlaku umum bagi mereka maupun para wanita Muslimah lainnya. Pendapat seperti ini tidak bisa diterima. Sebab, yang disebut dengan sabab an-nuzûl (latar belakang turunnya) ayat adalah mengacu pada suatu peristiwa yang terjadi, sementara dalam ayat tersebut, istri-istri Nabi saw. bukanlah ‘peristiwa’ yang terjadi dan ditunjuk oleh ayat tersebut. Ayat tersebut merupakan nash tertentu yang menjelaskan apa yang seharusnya dilakukan oleh orang-orang tertentu. Artinya, nashnya hanya menyangkut para istri Nabi saw. saja, sebagaimana firman Allah Swt.:

Wahai istri-istri Nabi, kalian berbeda dengan wanita yang lain. (QS al-Ahzâb [33]: 32)

Apabila kalian hendak meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi saw). (QS al-Ahzâb [33]: 53)

Selain itu, adanya kata ganti (dhamîr) yang mengacu pada para istri Rasulullah saw. dan adanya ketentuan yang hanya ditujukan untuk mereka saja, bukan yang lain, merupakan ‘illat (alasan) bahwa perintah untuk mengenakan hijab pun hanya khusus bagi mereka saja. Apalagi pernyataan pada ayat tersebut dilanjutkan dengan kalimat:

….Kalian tidak boleh menyakiti (hati) Rasulullah saw. (QS al-Ahzâb [33]: 53)

Semua ini menunjukkan bahwa kedua ayat di atas diturunkan khusus bagi para istri Nabi saw. Dengan demikian, kaidah, Al-‘Ibrah bi ‘umûm al-lafzhi lâ bi khushûsh as-sabab (Hukum berlaku karena umumnya lafal, bukan karena khususnya sebab), tidak layak dipakai di sini.

Dalam konteks ini pun tidak bisa dikatakan bahwa seruan terhadap para istri Rasulullah saw. berlaku juga bagi para wanita Muslimah lainnya. Sebab, kaidah yang menyatakan, “Seruan terhadap individu tertentu adalah berlaku pula bagi kaum Mukmin secara umum,” hanya diperuntukkan secara khusus bagi Rasulullah saw. atas kaum Mukmin, tidak berlaku bagi para istri beliau atas para wanita Mukmin. Seruan terhadap Rasulullah saw. memang berlaku pula bagi kaum Mukmin, sedangkan seruan kepada para istri Nabi saw. adalah khusus ditujukan bagi mereka saja. Sebab, Rasulullah saw. merupakan teladan (yang wajib diikuti oleh seluruh kaum Mukmin, pen) dalam setiap ucapan, perilaku, ataupun diamnya beliau—selama tidak ada pengkhususan bagi diri beliau. Sebaliknya, para istri beliau bukanlah teladan (maksudnya, yang wajib diikuti oleh seluruh kaum Mukmin, pen). Allah Swt. sendiri telah berfirman:

Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian. (QS al-Ahzâb [33]: 21)

Dengan demikian, para istri Nabi saw. tidak wajib dijadikan suri teladan (bagi seluruh kaum Mukmin, pen), sehingga setiap Mukmin akan melakukan suatu perbuatan karena perbuatan tersebut dilakukan oleh mereka, ataupun mencontoh suatu sifat karena sifat tersebut ada pada diri mereka. Yang wajib diteladani dan dicontoh hanyalah Rasulullah saw. saja, sebab beliau tidak melakukan apa pun, kecuali senantiasa berlandaskan pada wahyu.

Lebih dari itu, tidak bisa juga dikatakan bahwa, jika para istri Rasulullah saw. saja—yang terjaga kesuciannya dan di rumah-rumah mereka selalu dibacakan wahyu—diperintah untuk mengenakan hijab, maka sesungguhnya para wanita Muslimah lain adalah lebih layak lagi terkena seruan ini. Pendapat semacam ini tidak dapat diterima karena dua alasan:

Pertama, masalahnya bukan mana yang lebih patut atau lebih layak. Sebab, tentang persoalan mana yang lebih layak atau lebih patut terkait dengan larangan Allah Swt. terhadap sesuatu yang sepele, sehingga hal itu mengandung pengertian bahwa, larangan terhadap sesuatu yang sifatnya lebih besar—daripada sesuatu yang sifatnya sepele tersebut, pen—tentu dipandang lebih layak lagi. Allah Swt. berfirman:

Janganlah kamu mengatakan kepada keduanya (orangtua), “Ah!” (QS al-Isrâ’ [17]: 23)

Maknanya, jika sekadar mengucapkan kata “Ah!” saja sudah dilarang, apalagi memukul keduanya, tentu lebih terlarang lagi. Dalam ayat lain, Allah Swt. berfirman:

Di antara Ahlul Kitab, ada orang yang jika diberi kepercayaan olehmu berupa harta yang banyak, ia mengembalikannya kepadamu. Di antara mereka, ada pula orang yang jika diberi kepercayaan olehmu berupa harta satu dinar saja, ia tidak mengembalikannya kepadamu. (QS Ali ‘Imrân [3]: 75)

Maknanya demikian. Dalam konteks yang pertama, mereka tentu akan mengembalikan harta yang jauh lebih banyak lagi; sementara dalam konteks yang kedua, mereka tentu tidak akan mengembalikan harta yang jumlahnya jauh di bawah satu dinar. Sebaliknya, ayat yang berkaitan dengan kawajiban mengenakan hijab tidak bisa ditinjau dari prinsip min bâb al-ûlâ (mana yang lebih), karena konteks kalimat pada ayat tersebut memang tidak terkait dengan siapa pun selain istri-istri Nabi saw., dan tidak mengandung pengertian lain. Kata nisâ an-Nabî (istri-istri Nabi saw.) bukanlah sifat yang diambil dari proses pemahaman (washfan mufahhaman) sehingga dapat disimpulkan bahwa, selain istri-istri Nabi saw. adalah lebih layak (untuk mengenakan hijab, pen). Sebaliknya, kata tersebut merupakan nama yang sudah baku (ism jâmid) sehingga tidak mengandung konotasi (pengertian) lain. Dengan kata lain, ungkapan dalam ayat tersebut hanya berkaitan dengan apa yang secara khusus ditunjukkan oleh nash, tidak lebih, dan tidak mengandung pemahaman lain. Ayat tersebut juga tidak berkaitan sama sekali dengan topik min bâb al-ûlâ (mana yang lebih), baik secara tekstual (ditinjau dari segi lafal lahiriahnya) ataupun secara kontekstual (ditinjau dari segi konteksnya).

Kedua, kedua ayat dimaksud merupakan perintah yang ditujukan hanya kepada individu-individu tertentu yang karakternya telah disifati dengan sifat-sifat tertentu, sehingga tidak berlaku sama sekali bagi selain mereka, baik yang derajatnya lebih tinggi ataupun yang lebih rendah daripada mereka. Sebab, kedua ayat tersebut menyebut sifat-sifat tertentu yang dinisbatkan kepada orang-orang tertentu. Perintah dalam kedua ayat tersebut hanya ditujukan bagi mereka yang benar-benar termasuk istri Rasulullah saw., karena kedudukan mereka berbeda dengan wanita Muslimah pada umumnya. Selain itu, interaksi para sahabat dengan istri-istri Rasulullah saw. tanpa ada hijab akan mengganggu beliau.

Dengan melihat paparan di atas, terbukti sudah bahwa, kaidah Al-‘Ibrah bi ‘umûm al-lafzhi lâ bi khushûsh as-sabab (Hukum berlaku karena umumnya lafal, bukan karena khususnya sebab) tidak layak dan tidak relevan dengan topik ini. Demikian pula tentang kewajiban untuk meneladani istri-istri Rasulullah saw. dan prinsip min bâb al-ûlâ (mana yang lebih utama). Sebaliknya, terbukti pula bahwa, nash tersebut secara pasti hanya ditujukan bagi istri-istri Nabi saw. semata. Kedua ayat yang diperbincangkan di atas hanya berkenaan dengan istri-istri Rasulullah saw. saja, sehingga tidak terkait sama sekali—dari sisi mana pun—dengan kaum wanita Muslimah lainnya.

Walhasil, kewajiban mengenakan hijab atas wajah—di samping perintah agar tetap tinggal di rumah—hanya ditujukan secara khusus bagi istri-istri Nabi saw. Atas dasar ini, kesimpulan hukum yang diambil dari proses penggalian dalil terhadap kedua ayat di atas—sehingga disimpulkan bahwa hijab atas wajah telah disyariatkan bagi para wanita Muslimah—telah gugur dengan sendirinya.

Selanjutnya, mengenai ayat kedua yang dimunculkan adalah firman Allah Swt. berikut:

Hendaklah mereka mengulurkan jilbab masing-masing ke seluruh tubuh mereka. (QS al-Ahzâb [33]: 59)

Ayat di atas sama sekali tidak menunjukkan perintah untuk menutupi wajah dalam kondisi apa pun, baik dilihat secara tekstual (manthûqan) maupun secara konseptual (mafhûman). Di dalamnya tidak ditemui satu kata pun yang menunjukkan kesimpulan semacam itu—baik secara tersendiri (kata demi kata) maupun secara integral dalam kalimat—sebagai legitimasi atas sabab an-nuzûl-nya. Artinya, potongan ayat yang berbunyi yudnîna ‘alayhinna min jalâbîbihinna bermakna mengulurkan jilbab atas seluruh tubuh mereka. Kata min dalam ayat ini bukan menunjukkan pada makna sebagian (li at-tab‘îdh), tetapi menunjukkan pada makna penjelasan (li al-bayân), yakni mengulurkan jilbab ke seluruh tubuh (dari bagian atas hingga ke bagian bawah). Secara etimologis, kata adnâ (akar kata dari kata yudnîna yang terdapat pada ayat ini, pen) bermakna arkhâ (mengulurkan hingga ke bawah). Dengan demikian, kata yudnîna sama maknanya dengan kata yurkhîna.

Sementara itu, yang dimaksud dengan jilbab itu sendiri bisa bermakna milhafah (baju kurung yang longgar dan tidak tipis), kain (kisâ’) apa saja yang dapat menutupi, atau pakaian (tsawb) yang dapat menutupi seluruh bagian tubuh. Di dalam Kamus al-Muhîth dinyatakan demikian:

اَلْجِلْبَابُ كَسِرْدَابٍ وَكَسِنْمَارٍ: اَلْقَمِيْصُ وَالثَّوْبُ وَاسِعٌ لِلْمَرْأَةِ دُوْنَ اْلمِلْحَفَةِ أَوْ مَا تُغْطِيْ بِهِ ثِيَابَهَا كَالْمِلْحَفَةِ.

Jilbab itu tak ubahnya seperti sirdâb (terowongan) atau sinmâr (lorong), yakni baju atau pakaian yang longgar bagi wanita selain baju kurung atau kain apa saja yang dapat menutupi pakaian kesehariannya seperti halnya baju kurung.

Sedangkan dalam Kamus ash-Shihhâh, al-Jawhârî menyatakan:

اَلْجِلْبَابُ اْلمِلْحَفَةُ وَقِيْلَ الْمُلاَءَةُ.

Jilbab adalah kain panjang dan longgar (milhâfah) yang sering disebut mulâ’ah (baju kurung).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s