Perbandingan Pendapat Hukum Memakai Cadar bagi Muslimah(Bag2-End)

image

Di dalam hadis disebutkan bahwa, jilbab adalah baju kurung yang dikenakan oleh wanita pada bagian luar pakaian kesehariannya yang lazim digunakan di dalam rumah. Ummu ‘Athiyah pernah bertutur demikian:

أَمَرَنَا رَسُوْلُ اللهِ r أَنْ نُخْرِجَهُنَّ فِي اْلفِطْرِ وِاْلأَضْحَى، الْعَوَاتِقُ وَاْلحَيْضُ وَذَوَاتِ الْخُدُوْرِ، فَأَمَّا الْحَيْضُ فَيَعْتَزِلْنَ الصَّلاَةَ وَيَشْهَدْنَ الْخَيْرَ وَدَعْوَةَ الْمُسْلِمِيْنَ. قُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ إِحْدَانَا لاَ يَكُوْنُ لَهَا جِلْبَابٌ. قاَلَ: لِتُلْبِسَهَا أُخْتُهَا مِنْ جِلْبَابِهَا

Rasulullah saw. telah memerintahkan kepada kami untuk keluar (menuju lapangan) pada saat Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha; baik wanita tua, yang sedang haid, maupun perawan. Wanita yang sedang haid menjauh dari kerumunan orang yang shalat, tetapi mereka menyaksikan kebaikan dan seruan yang ditujukan kepada kaum Muslim. Aku lantas berkata, “Ya Rasulullah saw., salah seorang di antara kami tidak memiliki jilbab.” Beliau kemudian bersabda, “Hendaklah salah seorang saudaranya meminjamkan jilbabnya.”

Artinya, wanita tersebut tidak memiliki pakaian (baca: jilbab) yang akan dikenakan pada bagian luar pakaian kesehariannya, karena ia hendak keluar rumah. Karena itulah, Rasulullah saw. memerintahkan agar saudaranya meminjamkan jilbab kepadanya yang akan dikenakan pada bagian luar pakaian keseharaiannya. Dengan demikian, ayat di atas bermakna bahwa, Allah Swt. telah meminta Rasulullah saw. agar menyampaikan kepada para istri dan anak-anak wanitanya beserta istri orang-orang Mukmin supaya mengulurkan kain pada bagian atas pakaian keseharian mereka hingga ke bawah. Pengertian semacam ini didasarkan pada sebuah dalil, yakni berupa riwayat yang telah dikemukakakan dari Ibn ‘Abbas, yang menyatakan bahwa jilbab adalah kain luar yang berfungsi untuk menutupi (pakaian keseharian wanita) dari atas sampai ke bawah. Ayat tersebut menunjukkan perintah agar mengulurkan jilbab, yaitu kain yang luas dan lebar, hingga ke bawah, dan tidak menunjukkan makna yang lainnya.

Jika demikian kenyataannya, bagaimana mungkin sampai muncul pemahaman bahwa kalimat yudnîna ‘alayhinna min jalâbîbihinna bermakna mengenakan pakaian yang dapat menutupi wajah? Betapapun lafal yudnîna dan jilbâb ditafsirkan berdasarkan batas-batas pengertian bahasa maupun syariat, ayat tersebut tetap menunjukkan bahwa yang dimaksud adalah mengulurkan pakaian (irkhâ’ ats-tsiyâb) yang dilakukan sampai ke bawah, dan bukan mengangkatnya hingga ke atas. Atas dasar ini, di dalam ayat tersebut tidak ditemukan satu dalil pun—atau bahkan sekadar syubhah ad-dalîl (sesuatu yang mirip dalil)—yang menunjukkan adanya keharusan mengenakan hijab atas wajah ditinjau dari sisi mana pun.

Sebagaimana kita ketahui, kata-kata atau kalimat-kalimat dalam al-Quran bisa ditafsirkan sebatas dalam konteks bahasa (etimologi) dan syariat, dan tidak bisa ditafsirkan selain dengan dua cara ini. Secara bahasa, makna ayat tersebut telah jelas, yakni memerintahkan para wanita agar mengulurkan jilbab atas seluruh bagian tubuhnya atau agar menurunkan sekaligus menghamparkan jilbab yang dikenakannya pada bagian luar pakaian kesehariannya—yang lazim dipakai di dalam rumah—ke bawah hingga menutupi kedua (telapak) kakinya. Keharusan untuk mengulurkan jilbab (irkhâ’ ats-tsiyâb) hingga ke bawah ini telah ditunjukkan di dalam hadis yang diriwayatkan dari Ibn ‘Umar. Ia menuturkan demikian:

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ r مَنْ جَرَّ ثَوْبَهُ خُيَلاَءَ لَمْ يَنْظُرِ اللهُ إِلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ. فَقَالَتْ أُمُّ سَلَمَةِ: فَكَيْفَ يَصْنَعُ النِّسَاءُ بِذُيُوْلِهِنَّ؟ قَالَ: يُرْخِيْنَ شِبْرًا. قَالَتْ: إِذًا يَنْكَشِفُ أَقْدَامُهُنَّ. قَالَ: يُرْخِيْنَ ذِرَاعًا لاَ يَزِدْنَ عَلَيْهِ.

Rasulullah saw. pernah bersabda, “Siapa saja yang mengangkat pakaiannya karena sombong, di hari Kiamat nanti Allah Swt. pasti tidak akan mempedulikannya.” Ummu Salamah lalu bertanya, “Jika demikian, lantas bagaimana dengan yang dilakukan para wanita atas bagian bawah pakaian mereka?” Nabi saw. menjawab, “Hendaklah mereka mengulurkannya sejengkal.”

Ummu Salamah kembali bertanya, “Kalau begitu, kedua kaki mereka masih tampak?” Nabi saw kembali menjawab, “Jika demikian, hendaklah mereka mengulurkannya lagi sehasta, dan tidak menambahnya.”

Demikianlah pembahasan mengenai ayat-ayat yang dijadikan dalil oleh mereka yang menyerukan bahwa hijab atas wajah telah disyariatkan oleh Allah Swt. atas para wanita Muslimah.

Sementara itu, hadis-hadis yang dijadikan dalil oleh mereka tentang keharusan wanita Muslimah mengenakan hijab atas wajah sesungguhnya tidak menunjukkan pengertian ini. Sebab, hadis mengenai budak mukâtab—jika ia mampu membayar tebusannya—yang diperintahkan untuk mengenakan hijab di hadapan tuannya, adalah khusus terkait dengan istri-istri Nabi saw. Hadis ini diperkuat hadis lain. Abû Qilâbah bertutur:

Istri-istri Nabi saw. tidak mengenakan hijab di hadapan budak mukâtab yang masih memiliki harta satu dinar (untuk tebusan).

Di sini, tidak ada dalil yang menunjukkan bahwa wanita Muslimah harus mengenakan hijab atas wajah.

Di sisi lain, hadis Ummu Salamah serta permintaan Nabi saw. kepadanya dan kepada Hafshah agar masing-masing mengenakan hijab atas wajah adalah hadis dha‘îf (lemah), sehingga tidak dapat dijadikan hujjah. Apalagi, hadis tersebut hanya khusus ditujukan bagi istri-istri Rasulullah saw., yakni Ummu Salamah dan Hafshah.

Sementara itu, ‘Aisyah r.a. bertutur:

Para penunggang (unta dan kuda) pernah melewati kami, sementara kami bersama-sama Rasulullah saw. sedang berihram. Tatkala mereka mendekat ke arah kami, salah seorang di antara kami menurunkan jilbabnya dari rambut ke wajahnya. Ketika mereka berlalu, kami membukanya kembali.

Hadis ini bertentangan dengan apa yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhârî dari Ibn ‘Umar. Ia menyatakan bahwa Nabi saw. pernah bersabda sebagai berikut:

Wanita yang sedang berihram tidak wajib menutup wajahnya (mengenakan cadar) dan tidak wajib pula menutup kedua tangannya.

Dalam kitab Fath al-Bârî, disebutkan bahwa cadar adalah kain yang dikenakan di atas hidung atau di bawah lekukan mata. Dengan demikian, hadis ‘Aisyah r.a. menyebutkan bahwa wanita yang sedang berihram telah menutupi wajahnya tatkala di hadapannya lewat para pengendara (unta), sementara hadis Ibn ‘Umar menunjukkan larangan mengenakan cadar, artinya tidak menutupi apa pun kecuali bagian bawah wajah. Jika demikian kenyataannya, lantas bagaimana mungkin pengertian kedua hadis tersebut dikaitkan dengan upaya untuk menutupi wajah seluruhnya dengan kain dan menghamparkannya di atas wajah? Dengan merujuk pada kedua hadis tersebut, jelaslah bahwa, hadis ‘Aisyah bersumber dari penuturan Mujâhid. Yahyâ ibn Sa‘îd al-Qaththân telah menyatakan bahwa ia tidak pernah mendengar hadis tersebut dari ‘Aisyah. Sebaliknya, hadis yang dituturkan oleh Ibn ‘Umar adalah hadis sahih yang telah dikemukakan oleh Imam al-Bukhârî. Oleh karena itu, hadis yang dituturkan oleh ‘Aisyah dengan sendirinya tertolak karena dha‘îf dan bertentangan dengan hadis sahih, sehingga tidak dapat dijadikan hujjah.

Sementara itu, hadis mengenai Fadhl ibn ‘Abbas bukanlah dalil bagi keharusan untuk mengenakan hijab, tetapi justru merupakan dalil bagi tidak adanya keharusan untuk mengenakan hijab. Sebab, Khuts‘amiyah sendiri, ketika menanyakan sesuatu kepada Rasulullah saw., wajahnya tampak. Buktinya, Fadhl sempat memandang wajahnya dan adanya kalimat terakhir yang tercantum dalam hadis tersebut yang berbunyi sebagai berikut:

Oleh karena itu, Rasulullah saw. memalingkan wajah Fadhl ke arah yang lain.

Dalam riwayat dari ‘Alî ibn Abî Thâlib r.a. ditambahkan keterangan sebagai berikut:

‘Abbas r.a. kemudian bertanya kepada Rasulullah saw., “Ya Rasulullah, mengapa engkau memalingkan leher keponakanmu?” Rasulullah saw. menjawab, “Karena aku melihat seorang pemuda dan seorang pemudi yang tidak aman dari gangguan setan.”

Dengan kata lain, hadis mengenai Khuts‘amiyah menunjukkan tentang ketidakharusan wanita Muslimah untuk mengenakan hijab, bukan menunjukkan tentang kewajiban untuk mengenakan hijab. Alasannya, Rasulullah saw. sendiri melihat Khuts‘amiyah yang memperlihatkan wajahnya, sehingga beliau memalingkan pandangan Fadhl, karena ia memandang wanita tersebut dengan disertai syahwat, sebagaimana dinyatakan dalam hadis riwayat ‘Alî r.a., ‘….yang tidak aman dari gangguan setan’.

Karena itulah, Rasulullah saw. memalingkan wajah Fadhl, karena ia memandang wanita tersebut disertai syahwat, bukan memandangnya dengan pandangan biasa atau wajar. Padahal, memandang wanita asing yang disertai dengan syahwat—meskipun hanya melihat wajah dan kedua telapak tangan—adalah tindakan yang diharamkan.

Sementara itu, dalam hadis tentang pandangan yang tiba-tiba (tidak disengaja), Rasulullah saw. memerintahkan Jarîr untuk memalingkan atau menundukkan pandangannya, sebagaimana dinyatakan dalam firman Allah Swt.:

Katakanlah kepada laki-laki Mukmin, hendaklah mereka menahan pandangannya. (QS an-Nûr [24]: 30)

Yang dimaksud ayat ini adalah pandangan yang tiba-tiba terhadap selain wajah dan kedua telapak tangan wanita yang termasuk aurat, bukan pandangan terhadap wajah dan kedua telapak tangan. Sebab, melihat wajah dan kedua telapak tangan wanita merupakan tindakan yang dibolehkan, meskipun secara sengaja. Dalilnya adalah adanya kebolehan untuk memandang wajah dan kedua telapak tangan wanita sebagaimana yang tercantum dalam hadis mengenai Khuts‘amiyah. Selain itu, Rasulullah saw. sendiri telah melihat wajah kaum wanita tatkala mereka membaiat beliau dan tatkala beliau memberikan nasihat kepada mereka. Kenyataan ini menunjukkan bahwa, yang menjadi pokok masalah adalah pandangan yang tidak disengaja terhadap anggota badan wanita selain wajah dan dua telapak tangannya. Dalam konteks ini, Hadis Nabi saw., sebagaimana dituturkan oleh ‘Alî r.a., yang berbunyi, ‘Janganlah engkau mengikuti pandangan pertama dengan pandangan berikutnya,’ mengandung larangan untuk memandang wajah wanita secara berulang-ulang atau terus-menerus, bukan larangan agar tidak melihatnya sama sekali.

Atas dasar ini, berarti tidak terdapat hadis yang menunjukkan bahwa Allah Swt. telah mensyariatkan wanita Muslimah untuk mengenakan hijab atas wajahnya, sebagaimana yang diserukan oleh mereka yang berpendirian seperti ini.

Walhasil, jelaslah bahwa tidak ada satu dalil pun yang menunjukkan Allah Swt. telah mewajibkan wanita Muslimah untuk mengenakan hijab atas wajahnya atau bahwa wajah dan kedua telapak tangan wanita merupakan aurat, baik dalam waktu shalat maupun di luar waktu shalat. Dalil-dalil yang ditunjukkan oleh mereka tidak ada relevansinya dengan kewajiban untuk mengenakan hijab, apalagi riwayat dan penunjukkan dalilnya lemah.
Sebagaimana diketahui, wajah dan kedua telapak tangan wanita bukanlah aurat. Oleh karena itu, seorang wanita boleh untuk keluar menuju pasar atau melewati jalan umum menuju ke tempat mana pun dengan menampakkan wajah dan kedua telapak tangannya. Sebab, hal ini telah ditegaskan di dalam al-Quran maupun hadis. Dalam al-Quran terdapat firman Allah Swt. yang berbunyi:

Janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang biasa tampak pada dirinya, dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya. (QS an-Nûr [24]: 31)

Di dalam ayat ini, Allah Swt. melarang wanita Muslimah untuk menampakkan perhiasannya atau untuk menampakkan bagian tubuh tempat melekatnya perhiasannya. Inilah maksud dari larangan tersebut. Pengecualian atas bagian tubuh selain tempat melekatnya perhiasan, yakni berupa apa yang biasa tampak, sudah sangat jelas. Artinya, pada diri wanita terdapat bagian-bagian tubuh tertentu tempat melekatnya perhiasannya yang biasa tampak. Bagian-bagian tubuh tersebut secara eksplisit memang tidak dimasukkan ke dalam larangan. Hal ini tidak memerlukan perincian lebih lanjut. Sebab, Allah Swt. telah melarang para wanita Mukmin untuk menampakkan perhiasannya, kecuali apa yang biasa tampak pada dirinya. Tafsir mengenai bagian tubuh wanita yang mana yang dimaksud dalam potongan firman Allah Swt. yang berbunyi, ‘illâ mâ zhahara minhâ’, dapat dikembalikan pada dua hal. (1) Tafsir secara literal atau tekstual (manqûl). (2) Tafsir secara konseptual (mafhûm), yakni melalui apa yang dapat dipahami dari kalimat mâ zhahara minhâ. Hal ini dapat ditempuh dengan cara mengimplementasikannya pada apa yang biasa tampak pada diri para wanita Muslim di hadapan Nabi saw. pada zamannya, yakni pada periode turunnya ayat tersebut.

Secara literal atau tekstual (manqûl), pengertian kalimat dari ayat tersebut dikemukakan oleh Ibn ‘Abbas. Ia menafsirkan bahwa, yang dimaksud mâ zhahara minhâ (apa yang biasa tampak pada dirinya) adalah wajah dan kedua telapak tangan. Pendapat ini sejalan dengan pendapat para ahli tafsir yang lain. Ibn Jarîr ath-Thabarî menyatakan demikian:

Yang paling benar dalam masalah ini adalah pendapat yang menyatakan bahwa yang dimaksud adalah wajah dan dua telapak tangan.

Imam al-Qurthubî juga berpendapat:

Wajah dan kedua telapak tangan lazim tampak, baik dalam adat kebiasaan maupun dalam prosesi peribadatan seperti haji dan shalat. Oleh karena itu, layak jika pengecualian itu dikembalikan maksudnya pada dua anggota badan ini.

Pendapat ini didukung oleh Imam az-Zamakhsyarî yang menyatakan demikian:

Sesungguhnya seorang wanita, tatkala melakukan sesuatu, mutlak harus menggunakan kedua telapak tangannya dan menampakkan wajahnya; terutama dalam masalah kesaksian, pengadilan, dan perkawinan. Ia pun terpaksa harus keluar di jalanan umum sehingga tampak kedua kakinya, terutama yang dialami oleh para wanita fakir. Inilah pengertian dari firman Allah Swt. yang berbunyi, ‘illâ mâ zhahara minhâ’.

Sementara itu, secara konseptual, yakni melalui pemahaman terhadap kalimat mâ zhahara minhâ, pengertiannya sudah sangat jelas, bahwa apa yang biasa tampak pada diri para wanita tatkala ayat ini turun adalah wajah dan kedua telapak tangan mereka. Kaum wanita biasa menampakkan wajah dan kedua telapak tangan mereka di hadapan Nabi saw. Kenyataan mereka seperti ini tidak bisa dipungkiri. Mereka biasa menampakkan wajah dan kedua telapak tangan mereka pada saat pergi ke pasar atau melewati jalan-jalan umum. Fenomena semacam ini sudah amat banyak dan tidak terhitung jumlahnya. Di antaranya adalah sejumlah fakta sejarah atau riwayat berikut ini:

Pertama, riwayat Jâbir ibn ‘Abdillâh. Ia bertutur demikian:

Aku pernah bersama-sama Rasulullah saw. pada hari Ied. Ketika itu, shalat dimulai sebelum khutbah tanpa azan maupun iqamat. Rasulullah saw. kemudian berdiri sambil memegang tongkat seraya memerintahkan kaum Muslim agar bertakwa kepada Allah Swt. dan menganjurkan mereka agar menaati-Nya. Beliaupun menasihati dan memperingatkan mereka. Setelah itu, beliau berlalu sampai datang para wanita kepadanya. Beliau kemudian bersabda kepada mereka, “Hendaklah kalian bersedekah, karena sesungguhnya kebanyakan penghuni neraka adalah para wanita.” Salah seorang wanita di antara kerumunan itu, sambil memukul-mukul pipinya, berkata, “Mengapa demikian, wahai Rasulullah.” Beliau menjawab, “Karena kalian banyak mengeluh dan menolak keluarga kalian.” Kemudian Rasulullah saw. menganjurkan mereka untuk menyedekahkan perhiasan-perhiasan yang mereka miliki, baik berupa kalung maupun cincin, yang kemudian dikumpulkan pada kainnya Bilal.

Kedua, riwayat ‘Athâ’ ibn Abî Rabbâh. Ia menuturkan demikian:

Ibn ‘Abbas pernah berkata kepadanya, “Maukah engkau aku tunjukkan seorang wanita yang termasuk ahli surga?” Aku menjawab, “Ya.” Ia kemudian menceritakan bahwa wanita tersebut berkulit hitam. Wanita itu pernah datang kepada Nabi saw. lalu berkata, “Aku ini menderita penyakit ayan sehingga auratku sering tersingkap. Karena itu, aku mohon engkau berdoa kepada Allah Swt. untukku.” Rasulullah saw. menjawab. “Sesungguhnya jika engkau menghendaki dan berlaku sabar, balasannya adalah surga. Akan tetapi, jika engkau menghendaki, aku bisa mendoakanmu supaya engkau sembuh.” Wanita itu berkata, “Kalau begitu, aku mau bersabar. Akan tetapi, auratku sering tersingkap. Karena itu, doakanlah agar auratku tidak tersingkap.” Setelah itu, Nabi saw. mendoakannya.

Ketiga, riwayat Fâthimah binti Qays. Disebutkan bahwa, Abû ‘Amr ibn Hafsh telah menjatuhkan talak tiga kepadanya, sedangkan Abû ‘Amr sendiri tidak ada di tempat waktu itu. Fâthimah lantas mendatangi Rasulullah saw. dan menceritakan keadaannya. Beliau kemudian menyuruhnya untuk menunggu ‘iddah di rumah Ummu Syarîk seraya bersabda:

Wanita itu telah tertipu sahabatku. Hendaklah engkau menunggu masa ‘iddah di rumah Ummi Maktum, sebab ia adalah lelaki buta. Engkau bisa membuka pakaian, sementara ia tidak melihat.

Dengan demikian, Nabi saw. secara tidak langsung membiarkan Fâthimah binti Qays dilihat oleh kaum pria tatkala beliau menyuruhnya untuk menunggu masa ‘iddah-nya di rumah Ummu Syarîk. Namun demikian, beliau tidak membolehkan ia membuka pakaiannya di rumah Ummu Syarîk yang selalu didatangi oleh kaum pria agar tidak tampak apa yang diharamkan untuk dilihat. Beliau kemudian menyuruh Fâthimah binti Qays untuk pindah dan menghabiskan masa ‘iddah-nya di rumah Ummi Maktum.

Keempat, riwayat Abû Bakar yang bersumber dari Ibn Jurayj. Ia menuturkan bahwa ‘Aisyah pernah berkata demikian:

Keponakan perempuanku pernah masuk ke ruanganku seraya bersolek. Rasulullah saw. kemudian masuk pula ke ruanganku sambil berpaling. Aku lantas berkata, “Wahai Rasulullah, ia adalah keponakan perempuanku, dan ia masih kecil.” Akan tetapi, Rasulullah saw. bersabda, “Jika seorang wanita telah mengalami haid, ia tidak boleh menampakkan tubuhnya, kecuali wajah dan ini.” Beliau berkata demikian sambil menggenggam tangannya dan membiarkan jari-jemarinya saling menggenggam satu sama lain.

Kelima, adanya riwayat yang menunjukkan bahwa telapak tangan wanita bukanlah aurat adalah kenyataan bahwa Rasulullah saw. berjabat tangan dengan kaum wanita tatkala mereka membaiat beliau. Dalam hal ini, Ummu ‘Athiyah bertutur demikian:

Kami telah membaiat Nabi saw. Beliau kemudian memerintahkan kami agar tidak menyekutukan Allah Swt. dengan sesuatu yang lain dan melarang kami untuk meratap. Tiba-tiba, salah seorang wanita di antara kami melepaskan tangannya lalu berkata, “Seorang wanita telah membahagiakan diriku dan aku ingin sekali membalasnya.” Beliau tidak mengomentarinya sedikit pun. Wanita itu pergi dan lalu kembali lagi.

Hadis ini dengan jelas menunjukkan bahwa para wanita Muslimah telah berbaiat dengan tangan mereka. Alasannya, salah seorang dari mereka telah menarik tangannya setelah sebelumnya diulurkannya ketika hendak berbaiat. Dengan demikian, hadis ini menunjukkan bahwa tangan wanita tersebut—sebagaimana tangan para wanita lainnya (pen)—digenggam tatkala terdengar ucapan baiat. Kenyataan ini secara jelas menunjukkan bahwa baiat dilakukan dengan tangan dan Rasulullah saw. telah membaiat kaum wanita dengan tangannya yang mulia.

Memang, ada riwayat dari ‘Aisyah tatkala ia berkata:

Tangan Rasulullah tidak pernah menyentuh tangan seorang wanita pun, kecuali wanita yang dimilikinya.

Pernyataan ini hanya merupakan pendapat ‘Aisyah r.a. sebatas apa yang diketahuinya. Jika pernyataan ‘Aisyah ini diperbandingkan dengan hadis yang dituturkan oleh Ummu ‘Athiyah, maka hadis yang dituturkan Ummu ‘Athiyah jelas lebih kuat (valid), karena hadis tersebut menunjukkan aktivitas real yang terjadi di hadapan Rasulullah saw., sekaligus menunjukkan perbuatan Rasulullah saw. sendiri. Hadis ini jelas lebih kuat dibandingkan dengan pendapat ‘Aisyah. Oleh karena itu, para perawi hadis memandang kuat hadis Ummu ‘Athiyah ini. Mereka mengambil hadis ini dan karenanya membolehkan kaum pria berjabat tangan dengan kaum wanita.

Kelima hadis di atas menunjukkan gambaran yang pasti bahwa yang biasa tampak pada kaum wanita adalah wajah dan kedua telapak tangan mereka. Hadis yang keempat menunjukkan bahwa Rasulullah saw. memalingkan pandangannya terhadap seorang wanita yang sedang bersolek karena ia menampakkan bagian tubuh selain yang biasa tampak. Beliau lalu menjelaskan bahwa ia tidak boleh menampakkan bagian tubuhnya, kecuali wajah dan kedua telapak tangannya. Kenyataan ini mengisyaratkan bahwa wajah dan kedua telapak tangan bukanlah aurat, baik pada waktu shalat maupun di luar waktu shalat, karena ayatnya berbentuk umum:

Hendaklah mereka tidak menampakkan perhiasannya, kecuali apa yang biasa tampak pada dirinya. (QS an-Nûr [24]: 31)

Sementara itu, ayat sesudahnya jika dipahami, menunjukkan bahwa wajah dan kedua telapak tangan wanita bukanlah aurat, karena Allah Swt. berfirman:

Hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke wilayah dada mereka. (QS an-Nûr [24]: 31)

Kata khumûr (kerudung) pada ayat di atas adalah bentuk jamak dari kata khimâr, yaitu sebentuk kain yang berfungsi untuk menutupi kepala; sedangkan kata juyûb (kerah baju) adalah bentuk jamak dari kata jayb yaitu sepotong kain penutup atau kemeja. Dengan demikian, Allah Swt. memerintah para wanita Muslimah untuk mengulurkan kerudungnya di atas leher dan dada mereka. Keduanya wajib untuk ditutupi. Sebaliknya, para wanita Muslimah tidak diperintahkan untuk menutupi wajahnya dengan kainnya. Hal ini mengisyaratkan bahwa wajah bukanlah aurat. Jadi, makna kata jayb bukanlah dada sebagaimana yang mereka pahami, melainkan tawqah (kain yang mengelilingi leher) yang terlipat dan terhampar di sekitar leher dan di atas dada. Memakai kerudung di atas jayb maknanya adalah mengulurkan kerudung di atas (lipatan) kerah pakaian di sekitar bagian leher sampai ke bagian dada. Sebab, perintahnya adalah menutup kepala hingga ke leher dan dada, kecuali wajah, sehingga hal itu menunjukkan bahwa wajah bukan aurat. Walhasil, tidak ada keharusan mengenakan hijab atas wajah bagi wanita. Allah Swt. sendiri mensyariatkan hal semacam ini.

Itulah dalil-dalil yang digali dari al-Quran.

Sementara itu, ada sejumlah dalil yang bersumber dari hadis yang mengisyaratkan bahwa hijab atas wajah tidak disyariatkan oleh Allah Swt., sekaligus menyatakan bahwa wajah dan kedua telapak tangan bukan merupakan aurat. Misalnya, hadis yang diriwayatkan oleh Imam Abû Dâwud yang bersumber dari ‘Aisyah r.a. Disebutkan bahwa, Asma binti Abû Bakar r.a. pernah memasuki ruangan Nabi saw. dengan mengenakan pakaian tipis, sehingga Rasulullah saw. pun berpaling seraya bersabda kepadanya:

Asmâ’, sesungguhnya seorang wanita itu jika telah baligh tidak pantas untuk dilihat kecuali ini dan ini. (Beliau mengatakan demikian sambil memberi isyarat pada wajah dan kedua tangannya).

Imam Abû Dâwud juga meriwayatkan hadis yang bersumber dari penuturan Qatâdah. Dikatakan bahwa Nabi saw. pernah bersabda demikian:

Jika seorang anak wanita telah mencapai usia balig, tidak pantas terlihat dari dirinya selain wajah dan kedua telapak tangannya sampai bagian pergelangannya.

Imam al-Bayhaqî juga meriwayatkan hadis yang berasal dari penuturan Asmâ’ binti Umays. Ia bertutur demikian:

Rasulullah saw. pernah masuk ke kamar ‘Aisyah binti Abû Bakar, sementara ia bersama dengan saudara perempuannya, yaitu Asmâ’ binti Abû Bakar, yang saat itu sedang mengenakan pakaian tipis (transparan) yang bagian lengannya longgar. Ketika Rasulullah saw. melihatnya, beliau segera bangkit dan kemudian keluar kamar. ‘Aisyah lantas berkata sambil mengikuti Rasulullah saw. Rasulullah tampak seperti melihat sesuatu yang tidak disukainya sehingga ‘Aisyah pun menghampirinya. Akan tetapi kemudian, Rasulullah saw. masuk kembali. Beliau lantas ditanya oleh ‘Aisyah, mengapa beliau sampai bangkit dan keluar? Beliau kemudian bersabda, “Tidakkah engkau melihat keadaannya? Ia seperti bukan wanita Muslimah yang seharusnya hanya menampakkan ini dan ini.” Beliau berkata demikian seraya mengambil kain dan menutupkannya pada kedua tangannya sehingga yang tampak hanya jari-jemarinya. Beliau kemudian melilitkan kain tersebut dengan kedua tangannya ke arah pelipis (kepala)-nya hingga yang tampak hanya bagian wajahnya.

Hadis-hadis di atas secara jelas menunjukkan bahwa wajah dan kedua telapak tangan wanita bukanlah aurat. Hadis-hadis tersebut sekaligus menunjukkan bahwa Allah Swt. tidak mensyariatkan agar para wanita menutupi wajah dan kedua telapak tangan mereka. Mereka pun tidak diperintahkan untuk mengenakan hijab atas wajah mereka. Sebab, jika hal itu memang disyariatkan, sudah pasti ayat di atas akan bertentangan dengan sejumlah hadis yang tidak memungkinkan adanya penafsiran atau penakwilan apa pun. Hadis-hadis yang ada bahkan mengisyaratkan secara jelas dan terang, bahwa wanita Muslimah terbiasa keluar menuju pasar dengan menampakkan wajah dan kedua telapak tangan mereka. Mereka juga terbiasa bercakap-cakap dengan pria asing (bukan-mahram) seraya tetap menampakkan wajah dan kedua telapak tangan mereka. Mereka melakukan berbagai interaksi sosial sebagaimana yang telah disyariatkan seperti jual-beli, memberi upah, mendapatkan upah, tolong-menolong, perwakilan (wakâlah), pengasuhan anak (kafâlah), dan lain-lain seraya tetap menampakkan wajah dan dua telapak tangan mereka. Hijab atas wajah, dalam hal ini, tidak disyariatkan oleh Allah Swt., kecuali kepada istri-istri Rasulullah saw.

Meskipun demikian, pendapat mengenai keharusan wanita Muslimah untuk mengenakan hijab atas wajah merupakan pendapat yang Islami, karena terdapat syubhah ad-dalîl (sesuatu yang mirip dalil). Pendapat semacam ini telah dilontarkan oleh sejumlah pemuka mujtahid dari berbagai mazhab. Akan tetapi, harus diakui bahwa, syubhah ad-dalîl yang diungkapkan oleh mereka termasuk lemah sehingga nyaris tidak relevan untuk dijadikan sebagai dalil.

Kini, tinggal satu persoalan yang masih tersisa, yakni berkaitan dengan pendapat yang dilontarkan oleh sebagian mujtahid bahwa, hijab atas wajah telah disyariatkan kepada wanita karena adanya kekhawatiran akan munculnya fitnah. Artinya, mereka menyatakan bahwa wanita dilarang menampakkan wajahnya di tengah-tengah kaum pria bukan karena wajah itu aurat, tetapi karena adanya kekhawatiran akan munculnya fitnah. Pendapat semacam ini keliru ditinjau dari berbagai sisi.

Pertama, tidak ada dalil yang melarang menampakkan wajah disebabkan adanya kekhawatiran akan munculnya fitnah, baik itu dalam al-Quran, Sunnah, Ijma sahabat, ataupun ‘illat syar‘iyyah yang dapat di-qiyâs-kan (dianalogikan) terhadap masalah ini. Oleh karena itu, pendapat semacam ini tidak ada nilainya di hadapan syariat dan tidak dianggap sebagai hukum Islam. Sebab, hukum Islam adalah seruan asy-Syâri‘ (Pembuat Hukum), yakni Allah, sementara larangan untuk menampakkan wajah karena adanya kekhawatiran akan munculnya fitnah tidak berasal dari seruan-Nya. Jika telah diketahui bahwa dalil-dalil syariat datang dalam bentuk yang mengikat, berarti ayat-ayat dan hadis-hadis yang ada telah membolehkan wanita Muslimah untuk menampakkan wajah dan kedua tangannya secara mutlak; tanpa persyaratan apa pun dan tanpa ada pengecualian dalam keadaan apa pun. Artinya, larangan untuk menampakkan wajah merupakan upaya pengharaman atas apa yang telah dihalalkan oleh Allah Swt., dan kewajiban untuk menutupinya merupakan sesuatu yang sebenarnya tidak pernah diwajibkan oleh Allah Penguasa semesta alam. Dengan kata lain, pendapat semacam ini, selain tidak dianggap sebagai bagian dari hukum Islam, juga bertentangan dengan hukum Islam itu sendiri yang secara jelas tercantum dalam nash.

Kedua, sesungguhnya upaya untuk menjadikan kekhawatiran akan munculnya fitnah sebagai ‘illat untuk melarang wanita Muslimah menampakkan wajah sekaligus untuk mewajibkan wanita Muslimah agar menutupinya, tidak terdapat dalam nash syariat mana pun, baik secara jelas (sharâhatan), melalui penunjukan (dilâlatan), lewat proses penggalian (istinbâthan), maupun melalui analogi (qiyâsan). Artinya, tidak ditemukan adanya ‘illat syar‘iyyah (alasan yang digali dari syariat). Yang ada hanyalah ‘illat ‘aqliyyah (alasan yang hanya diambil dari proses rasionalisasi). Padahal, ‘illat ‘aqliyyah tidak ada nilainya di hadapan hukum syariat. Yang diakui hanyalah ‘illat syar‘iyyah, bukan yang lain. Walhasil, kekhawatiran akan munculnya fitnah tidak bisa dijadikan tolok-ukur di dalam proses penetapan larangan untuk menampakkan wajah sekaligus penetapan kewajiban untuk menutupinya. Sebab, ketetapan semacam ini tidak ditemukan dalam nash syariat.

Ketiga, terkait dengan kaidah berikut:

Sarana yang dapat mengantarkan pada sesuatu yang haram adalah haram.

Kaidah semacam ini tidak relevan dengan larangan untuk menampakkan wajah hanya karena takut munculnya fitnah. Sebab, kaidah ini mengharuskan adanya dua hal: (1) Sarana yang dapat mengantarkan pada sesuatu yang haram tersebut harus diduga kuat memang dapat menghasilkan keharaman, artinya, akibat yang bakal ditimbulkannya (baca: keharaman) adalah sesuatu yang pasti dan diduga kuat tidak akan meleset. (2) Keharaman yang ditetapkan itu memang telah dinyatakan secara jelas dengan nash, bukan dengan dilandaskan pada akal.

Dalam konteks ini, kedua aspek di atas tidak terdapat dalam topik tentang larangan untuk menampakkan wajah karena adanya kekhawatiran akan munculnya fitnah. Jika memang yang mereka katakan adalah kewajiban menutup wajah hanya karena adanya kekhawatiran munculnya fitnah—bukan karena adanya kepastian akan munculnya fitnah—berarti topik di seputar upaya menampakkan wajah karena khawatir akan adanya fitnah tidak relevan jika dikaitkan dengan kaidah di atas, yakni mengharamkan apa yang akan menyebabkan munculnya suatu keharaman. Dalam hal ini, harus diberi catatan, bahwa fitnah haram atas orang yang terfitnah (yakni pria yang terpesonan karena memandang wanita, pen). Yang pasti, bukan ini yang menjadi topik dasar dalam masalah ini. Apalagi kekhawatiran akan munculnya fitnah tidak disebutkan sama sekali dalam nash mana pun sebagai dalil bagi adanya pengharaman. Lebih dari itu, Allah Swt. tidak mengharamkan fitnah itu sendiri atas orang yang membuat fitnah (dalam hal ini, wanita yang menampakkan wajahnya, pen) terhadap orang lain. Yang diharamkan adalah fitnah atas orang yang memandang wanita dengan pandangan yang akan menimbulkan fitnah bagi dirinya, bukan atas obyek yang dipandang. Dalilnya adalah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Abû Dâwud sebagai berikut:

Fadhl ibn ‘Abbas pernah (menaiki hewan tunggangan bersama) Rasulullah saw. tiba-tiba, datanglah Khuts‘amiyah untuk meminta pendapat. Fadhl lantas memandang wanita tersebut dan si wanita itu pun memandangnya. Karena itu, Rasulullah saw. kemudian memalingkan wajah Fadhl dari wanita itu.

Artinya, Rasulullah saw. memalingkan wajah Ibn ‘Abbas dari wanita tadi. Dalam riwayat lain, redaksi dari potongan hadis tersebut adalah sebagai berikut:

Karena itu, Rasulullah saw. kemudian memegang Fadhl seraya memalingkan wajahnya dari sisi yang lain.

Riwayat tersebut juga diceritakan oleh ‘Alî ibn Abî Thâlib dengan ada tambahan redaksi:

Ibn ‘Abbas lalu berkata kepada Rasulullah, “Ya Rasulullah, mengapa engkau menundukkan leher keponakanmu ini?” Rasulullah saw. menjawab, “Aku melihat seorang pemuda dengan seorang pemudi yang tidak aman dari gangguan setan.”

Atas dasar ini, jelaslah bahwa, Rasulullah saw. memalingkan wajah Fadhl dari Khuts‘amiyah. Sebaliknya, beliau tidak memerintahkan Khuts‘amiyah agar menutupi wajahnya, padahal wajahnya jelas terlihat. Seandainya fitnah itu diharamkan atas orang yang membuat fitnah (sebagaimana Khuts‘amiyah, pen), maka Rasulullah saw. pasti telah memerintahkan Khuts‘amiyah untuk menutupi wajahnya, karena jelas sekali pandangan Fadhl kepada wanita itu telah menimbulkan fitnah (keterpesonaan) pada dirinya. Namun demikian, beliau tidak menyuruh Khuts‘miyah untuk menutupi wajahnya. Beliau malah memalingkan pandangan Fadhl. Kenyataan ini menunjukkan bahwa, pengharaman tersebut ditujukan bagi orang yang melihat (pria), bukan bagi yang dilihat (wanita). Atas dasar ini pula, pengharaman adanya fitnah pada diri seseorang karena memandang wanita sebetulnya tidak dinyatakan dalam satu nash pun yang menetapkan adanya keharaman atas wanita yang menimbulkan fitnah. Bahkan, nash yang ada justru menunjukkan tidak adanya keharaman fitnah tersebut atas wanita, sehingga—dengan sendirinya—apa yang dapat menimbulkan fitnah itu tidaklah haram, meskipun hal itu bersifat pasti. Meskipun demikian, Daulah Khilafah boleh saja menerapkan suatu kebijakan—sebagai upaya praktis dalam rangka mengurus umat—untuk menjauhkan seseorang dari pandangan yang dapat menimbulkan fitnah. Upaya ini dilakukan untuk menghindarkan sumber fitnah di tengah-tengah masyarakat, jika memang fitnah telah menyebar secara merata pada setiap individu yang ada. Kebijakan semacam ini pernah diterapkan oleh Khalifah ‘Umar ibn al-Khaththâb terhadap Nashr ibn Hajjâj. Ia dipindahkan ke wilayah Bashrah karena banyak wanita terpikat oleh ketampanannya. Fenomena semacam ini bisa terjadi secara umum, baik pada pria maupun wanita.

Dengan demikian, pendapat bahwa wanita haram menampakkan wajahnya karena khawatir dapat memunculkan fitnah tidak bisa diterima, meskipun munculnya fitnah tersebut sudah diprediksikan pasti terjadi. Walhasil, kaidah yang berbunyi, al-Washîlah ilâ al-harâm muharramah (Sarana yang dapat mengantarkan pada suatu keharaman adalah haram pula), tidak relevan dalam masalah ini.

sumber : kitab Nidzomul Ijtima’iy fil Islam.

Sumber tulisan : http://www.dakwahmedia.net/2016/02/perbandingan-pendapat-hukum-memakai.html?m=1

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s