Aksi 212 Bukan Belajar Demokrasi ; Tanggapan atas Kultwit Anis Matta

No democracy we want Islam
No democracy we want Islam

Pasca aksi 212, Anis Matta,  salah seorang tokoh partai Islam, membeber analisis melalui kultwit bahwa aksi damai tersebut menjadi bukti kompatibilitas Islam dan Demokrasi. Keberhasilan umat Islam berkumpul dalam jumlah ekstra besar untuk sebuah protes tapi berjalan dengan damai dan rapi merupakan “kemajuan berdemokrasi yang harus kita catat dan kita apresiasi”. 

Ia menyebut aksi 212 sebagai fenomena “nilai luhur agama dan demokrasi yang tumbuh berdampingan”. Meski demikian, ia menyarankan “umat Islam tidak boleh berhenti belajar, tentang demokrasi dan etika politik”.
Tak sepantasnya seorang tokoh Islam semacam Anis Matta beropini demikian. Sangat menyakitkan perjuangan dan persatuan umat yang digalang para tokoh Islam dalam memprotes penghinaan Al-Quran diletakkan dalam konteks kemajuan demokrasi. Penghinaan yang keterlaluan.  Berikut ini catatan atas opini tersebut:
Tidak benar kesimpulan bahwa aksi 212 adalah indikasi kemajuan demokrasi. Sebab akan bermakna menjadikan tolok ukur kemajuan demokrasi hanya pada kemampuan rakyat jelata untuk tetap damai tidak anarkis meski sedang marah. Karenanya kosa kata sakral dalam demokrasi adalah damai. Setiapkali rakyat bisa protes sambil damai, selalu dipuji sebagai pertanda kemajuan demokrasi. Sebaliknya jika anarkis, kemunduran demokrasi. 
Kalimat ini tak jujur karena hanya fokus pada satu pihak tidak memperhatikan pihak lain.  Mereka tidak melibatkan pihak yang diprotes (aparat) sebagai indikasi perkembangan demokrasi. Seharusnya aparat yang bandel bahkan represif dalam menghadapi pendemo, disertakan sebagai indikasi kemunduran demokrasi. Sehingga jika dilihat secara makro, damainya pendemo sebagai sisi kemajuan dan represifnya aparat sebagai sisi kemunduran menyebabkan kesimpulan global tak ada kemajuan apa-apa. Demokrasi berjalan di tempat. 
Pandangan yang dibangun di atas prinsip melihat sisi damainya demo tapi menutup mata terhadap represifnya aparat, merupakan pandangan khas Barat. Sebab Barat punya kepentingan dengan damainya pendemo, sebagai kondisi ideal untuk menguasai rakyat dengan piranti Demokrasi. 
Lagi pula, fakta membuktikan bahwa demo yang ricuh kerap memiliki dampak lebih ampuh dalam menyampaikan aspirasi dibanding damai. Kericuhan akan dimaknai kuatnya aspirasi, lalu diliput media massa secara kuas, lalu hal itu menekan aparat terkait untuk melaksanakan poin yang dituntut pendemo. Berarti secara misi, boleh jadi cara ricuh lebih mujarab dan ampuh. 
Umat Islam harusnya hanya fokus melihat kekuatan umat Islam. Semakin efektif dalam menyampaikan pesan, kadang dengan strategi damai, kadang dengan trik ricuh, itu pertanda kemajuan umat Islam. Intinya aspirasi dilaksanakan. Apa urusannya Islam dengan demokrasi yang maju, jika itu bermakna aparat lebih leluasa berbuat zalim terhadap umat akibat umat hanya mau jalan damai. 
Dengan demikian, damai atau ricuh itu hanya soal pilihan dalam menyampaikan aspirasi. Sama sekali bukan pertanda kemajuan demokrasi. Sebagaimana represifnya aparat tak pernah dihitung sebagai pertanda kemunduran demokrasi.
Kebanggan umat Islam adalah jika kuat dan bisa membawa Islam sebagai pemenang, dan kekuatan batil tumbang. Tak ada kebanggaan apapun jika Islam terhina tapi demonya dipuji sebagai kemajuan demokrasi. Persetan dengan apapun yang bukan Islam. Umat Islam hanya bangga dengan Islamnya. 
Pandangan ala Anis Matta yang mata-demokrasian sangat berbahaya. Saat umat Islam damai, disebut pertanda kemajuan demokrasi. Saat ada yang mengeksekusi penista Al-Quran pasti akan disebut kemunduran demokrasi. Padahal itu hal yang baik dalam sunnah Nabi. Pilihannya cuma dua; mencari ridha Allah ataukah ridha demokrasi. 

@elhakimi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s