​Kekuatan Ummat itu Nyata Adanya

Kekuatan Umat Nyata
Kekuatan Umat

Sebuah Catatan Perjalanan Tim Muslim Analyze Institute pada Aksi Super Damai 212
 

Setelah digelarnya aksi bela Islam Jilid 2 yang mampu mengumpulkan massa lebih dari 2 juta komunitas Muslim di Indonesia sebagai respon atas pelecehan Al-Quran yang dilakukan oleh Ahok, Aksi Bela Islam Jilid 3, dengan nama Aksi Super Damai kembali digelar. Kurang lebih 7 juta Muslim memadati Monas, Bundaran HI termasuk hingga ke Tugu Tani. Momentum inilah yang setidaknya oleh Tim Muslim Analyze Institute (MAin) mencoba melakukan investigasi sejak sebelum aksi hingga usai dan melakukan pengkajian terhadap berbagai fenomena yang terjadi selama aksi damai berlangsung. Rentetan catatan tim MAin berikut dapat dijabarkan.
 Aksi Super Damai Bela Islam Jilid 3 setidaknya cukup memberikan pengaruh dalam menggerakan massa tak terkecuali isu yang beredar. Mulanya, banyak pihak yang mengira bahwa aksi 212 tidak akan menyaingi aksi 411, dengan melihat isu yang beredar terus menghimpit dan memojokkan agar masyarakat tidak mengikuti aksi ini. Upaya untuk menghalangi pergerakan massa dari berbagai daerah menuju Jakarta pun tak luput dilakukan di berbagai armada transportasi. Ditambah pemerintah terus menambah ketakutan yang mencoba menekan jumlah massa dengan menebar isu makar, anti-kebhinekaan serta ditopang dengan munculnya fatwa haram Sholat Jum’at di jalan. Meski demikian, isu direduksi menjadi aksi doa bersama sehingga mengikis fokus tuntutan agar Ahok dipenjarakan. 
Dari pengamatan tim MAin ternyata muncul riak-riak pemantik dalam menjaga konsistensi gerak massa dan orientasi tuntutan yakni dengan kegigihan massa yang bergerak dari Ciamis. Dengan fakta perjuangan yang ada, berupa mengambil keputusan untuk berjalan kaki dari Ciamis ke Jakarta, juga hadirnya cerita-cerita perjuangan lainnya seperti antusias warga Rancaekek menanti warga Ciamis untuk memberikan keperluan logistik, beberapa foto yang menunjukkan pengorbanan massa Ciamis dan sebagainya telah meluruskan kembali haluan orientasi tuntutan massa untuk meneguhkan perasaan mereka untuk melakukan pembelaan terhadap Al-Quran sebagai wujud kecintaan yang begitu besar. Bahkan, sekalipun Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan menawarkan massa Ciamis untuk tidak melanjutkan jalan kaki dan menaiki bus ke Jakarta, massa justru menolak. Kiranya perjuangan massa Ciamis menjadi viral terutama dalam lingkup social media. Hingga akhirnya massa ummat Islam lainnya bergerak semakin dikukuhkan dengan fenomena ini.

Beriringan dengan waktu menuju acara di pagi hari dimana massa di berbagai daerah bergerak menuju Jakarta tepatnya di Monas, Bundaran HI hingga Tugu Tani, Tim MAin memulai pemberangkatan pada dini hari yakni pada hari Minggu, 2 Desember 2016. Tim MAin berangkat bersama rombongan kafilah Bandung yang mengambil peranan penting dalam momen bersatunya ummat ini, dengan kuantitas massa yang bersejarah. Namun demikian, persoalan teknis menuju ketika akan berangkat sempat menghambat Tim MAin menuju lokasi. Keberangkatan yang mestinya pukul 00.00 mengalami pengunduran waktu. Informasi yang diperoleh bahwa Bus kesulitan mencari solar dikarenakan di beberapa tempat kosong. Sejalan dengan informasi tersebut, beberapa titik pemberangkatan terhambat dengan upaya pembatalan dari PO Bus, Seperti Massa yang bergerak dari Jama’ah DT. Meski demikian, Alhamdulillah Pemberangkatan Bus dapat dinegosiasi. Dan disaat yang sama, Tim MAin beserta rombongan dapat melakukan pemberangkatan sekitar pukul 02.30 dini hari.
Dengan beberapa kejadian yang terjadi dalam upaya menahan laju pergerakan Massa, Tim MAin mendapati Bus yang ditunggangi rombongan Bandung Raya terlihat berjaga-jaga dengan situasi dan isu yang mengalir di tengah-tengah masyarakat. Dengan demikian, menjadi satu kewajaran Bus beserta Massa melakukan upaya protektif demi meminimalisir kemungkinan adanya penahanan Massa itu. Akhirnya Bus diberangkatkan dengan kondisi tertutup dengan gorden yang menutup dan lampu dipadamkan. Selain itu inisiatif Sopir Bus turut menjadi upaya antisipasi terhadap penahanan Massa dengan mengalihkan atau mencari jalur yang tidak didapati Polisi dan kemudian memasuki gerbang Tol di pinggiran kota Bandung.

Sekitar pukul 04.30, Tim MAin dan rombongan berhenti sejenak di sebuah Masjid yang berada di rest area untuk melaksanakan Shalat Subuh. Tidak dikira nuansa pergerakan Massa menuju Jakarta begitu terasa. Bus-bus pun mulai terlihat memadati jalanan yang menandakan Massa Bela Islam Jilid 3 siap untuk turun aksi. Tak terkecuali Massa yang hendak sholat di Masjid tersebut turut memadati hingga antrian wudhu cukup panjang. Usai Shalat, Perjalananpun dilanjutkan dengan sedikit sarapan pagi sebagai perbekalan fisik agar fit dalam mengikuti dan melakukan investigasi sepanjang aksi Bela Islam Jilid 3 ini. Hingga sampai memasuki Kota Jakarta, jalanan riuh-riuh dengan berbagai kelompok massa yang berdatangan dari berbagai arah. Sepanjang mata memandang -dengan putaran 360 derajat-dari segala sisi Bus yang dinaiki Tim MAin akan didapati Massa yang terus melakukan pergerakan menuju area Monas, HI dan Tugu Tani atau bahkan beberapa area yang Tim MAin tidak sebutkan. Fenomena ini mengingatkan kita terhadap nuansa pergerakan dimana masyarakat turun di jalanan dan mengerahkan berbagai kebutuhan logistik untuk keperluan Massa Aksi.

Berbagai lontaran yel-yel shalawat, takbir, tahlil, orasi tangkap ahok!, Penjarakan ahok! begitu menyemarakkan dan membangkitkan semangat pertentangan terhadap sebuah ketidakadilan atas identitas Islam yang dilecehkan. Massa mengalir deras dan membanjiri jalanan hingga membludak seolah Jakarta tak bisa lagi menampung Massa Bela Islam jilid 3 ini, seolah over capacity!. Bendera-bendera berkibar dan cukup didominasi oleh bendera tauhid, bendera komunitas Muslim yakni Al-Liwa dan Ar-Raya. Diantara mereka bahkan saling berbagi atribut Islam seperti bendera tawhid dan ikat kepala bertuliskan lailahaillallah muhamadurrasulullah. Semangat komunitas Muslim cukup mencengangkan dan menunjukan bahwa umat Islam dapat bersatu sebagai wujud kecintaannya terhadap Al-Quran, tanpa harus dibayar sepeserpun!
Ada fenomena yang menarik, sepanjang perjalanan Tim MAin dan Rombongan dari parkiran Bus menuju lokasi (luar area pagar Monas), kiranya ini menjadi gambaran bagaimana masyarakat Islam bila ia tegak dalam kancah kehidupan kelak. Fenomena yang bahkan tidak mungkin terjadi dalam masyarakat modern dewasa ini. Di antara fenomena itu adalah selain Massa berbagi keperluan atribut aksi, mereka dengan penuh antusias berbagi keperluan makanan, logistik, air, gorengan, cemilan, dan lain-lain. Cukup mudah bagi siapa saja yang ingin mendapatinya karena sepanjang jalan diantara Massa Aksi telah menunggu dan menawari makanan untuk diambil secara cuma-cuma. Sampai kiranya, mereka mencari-cari apa yang dia lihat mampu dalam memberikan sumbangsih terhadap perjuangan pembelaan Al-Quran ini walaupun tidak memiliki logistik yang mumpuni, seperti jasa ‘Pijat Gratis’ untuk memberikan kontribusi terhadap perjuangan. 
Sepanjang perjalanan, Tim MAin dan rombongan turut berbaur sebagai wujud bagian dari kaum Muslimin dan mengalirkan untaian orasi tangkap ahok dengan khas Bandungnya, “Tangkap Ahok, Tewak Ahok!” dengan dibarengi pembentangan bendera Ar-Raya yang dibentangkan selama perjalanan hingga berada di lokasi dekat Monas. Di sela-sela kerumunan, Tim MAin pun sempat mewawancarai salah satu anggota yang menjadi bagian dari Massa Madura, menurutnya memang benar adanya di lapangan terjadi banyak pembelotan, pengalihan orientasi tuntutan dan penahanan gerak Massa menuju Jakarta. Mereka terus bersikukuh agar Ahok cepat dipenjarakan saja karena sudah terlihat pemerintah seperti melindungi Ahok. Massa Madura rupanya turut termotivasi dalam aksi ini ketika melihat perjuangan Massa Ciamis yang berjalan bergerak menuju Jakarta tanpa menggunakan kendaraan dan menolak segala bujuk rayu pemerintah.
Setelah sampai di lokasi, Tim MAin dan rombongan Bandung Raya turut menata barisan untuk mempersiapkan Shalat Jum’at di lokasi. Hingga sekitar pukul 10.00, muncul kekacauan di belakang pagar Monas tempat Tim MAin duduk-duduk. Kekacauan itu muncul dari seorang provokator yang berupaya mengacaukan dan menjadikan massa rusuh. Menurut beberapa saksi Mata dari rombongan Bandung raya, provokator mengancungkan golok. Sempat terjadi perkelahian hingga akhirnya provokator tersebut digiring untuk diamankan. Massa yang hadir dan telah membariskan diri untuk bersiap Shalat Jum’at diminta agar tidak tersulut dan tidak terprovokasi.
Jelang shalat Jum’at, Massa disuguhkan dengan orasi dari beberapa anggota bahkan tokoh-tokoh massa di masing-masing daerahnya. Orasi yang menekankan bahwa tidak ada keadilan yang dapat dihadapkan dalam undang-undang manusia dan hukum manusia sempat membangkitkan salah satu peserta hingga mengatakan “KUHP, Kasih Uang Hapus Perkara!”. Dalam orasi tersebut disampaikan bahwa rupanya komunitas Muslim dapat bersatu bukan karena bayaran, dan faktanya tidak ada bayaran, akan tetapi yang mempersatukan Komunitas Muslim hingga berkumpul di Monas ini adalah karena perasaan Islam, Aqidah Islamnyang telah menyatukan mereka dengan berbagai macam latar belakangnya. Dan upaya menuntut keadilan tidak boleh tidak yakni harus mengupayakan menegakan Al-Quran dan menjadi sumber hukum dalam menegakan keadilan.
Kiranya Alam pun turut menjadi saksi atas Aksi Bela Islam jilid 3 ini, terlihat cuaca yang mendung mengitari tempat dimana massa berkumpul. Awan yang tidak terlalu gelap tampak menitikkan air halus berkali-kali turun dengan lembut. Kiranya hanya 1 menit saja air turun dengan intensitas yang sangat rendah. Kemudian Massa bersama-sama berdoa agar hujan tidak mengenai Massa. Sekejap hujan kecil itu terhenti dan awan yang tidak terlalu gelap tersebut bergeser, hembusan angin yang terasa lembut itu pun seolah meminggirkan awan sampai cahaya matahari turut menyinari kembali Massa Aksi, meski tidak terlalu terik. Kondisi ini berulang sekali lagi dan Massa melakukan hal yang sama. Hingga akhirnya, Jelang dikumandangkannya Azan, Hujan turun mengguyuri Massa Aksi dengan intensitas yang tidak terlalu deras, tidak pula rendah. Akhirnya, Massa melaksanakan Shalat Jum’at dengan dibarengi guryuran Hujan. 
Akhirnya, Shalat Jum’at menjadi titik akhir dari Aksi Masa Bela Islam Jilid 3 ini, meski demikian setelah massa membubarkan diri usai shalat, massa tetap bergemuruh memekikan takbir, tahlil, shalawat dan yel-yel tangkap ahok. Tim MAin dan rombongan pun kembali menuju Bus untuk kembali ke Bandung. Catatan terpenting dalam aksi ini adalah perasaan Islam yang cukup kuat ditengah-tengah umat Islam sehingga mampu menggerakan Umat Islam dalam aksi pembelaan terhadap Al-Quran. Kiranya bersatunya komunitas Muslim dengan perasaan Islam yang tinggi ini menjadi momentum besar terhadap daya politik umat agar dibangkitkan sehingga mampu menggenapkan perjuangan yang bermula pembelaan terhadap Al-Quran menuju pembelaan akan kemuliaan Muslim dan Al-Quran itu sendiri agar mampu dijadikan cara hidup dalam bermasyarakat. Akhirnya, Perjuangan 212 tidaklah berakhir, akan tetapi menjadi langkah awal untuk menggenapkan perjuangan menuju tegaknya Al-Quran sebagai sumber hukum yang memberikan keadilan dan penjagaan terhadap kemuliaan Al-Quran itu sendiri. Maka tidak menutup kemungkinan, Komunitas Muslim mendapatkan posisinya kembali sebagai pemilik kekuasaan dan menjadikan dirinya sebagai panduan bagi umat lainnya hingga terasa Islam sebagai Rahmaan Lil Alamin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s