​ISLAM & KEBHINEKAAN

HTI-Press; Tema menarik digagas dalam acara Halaqoh Islam dan Peradaban (HIP) Hizbut tahrir Indonesia DPD II Purwakarta, yaitu “Islam dan Kebhinekaan” menarik, karena ini merupakan isu yang lagi hangat diperbincangkan masyarakat Indonesia, menarik karena ada pihak pihak tertentu yang mencoba meletakkan kebhinekaan sebagai tameng pelindung penistaan agama, menarik karena secara fakta masyarakat Indonesia memang bhineka, menarik tentu saja karena diulas dari sudut pandang Islam diulas oleh pakar yang memiliki kompetensi di bidangnya.

HIP kali ini dihelat di tempat iconic menarik yang sangat dikenal masyarakat Purwakarta tepatnya di Aula Gedung Rabbani Jl. RE. Martadinata Purwakarta hari Sabtu, 10 Desember 2016 dari pukul 08.30 sampai 11.30. tak kurang 300an elemen dan tokoh masyarakat antusias mengikuti acara ngaji yang dikemas modern ala HIP, tokoh masyarakat seperti Ustadz Asep jamaludin dari Tim Fatwa MUI purwakarta juga tidak ingin ketinggalan mengikuti acara ini hingga akhir.


Seperti pada umumnya acara dibuka oleh MC dilanjutkan dengan Tilawah Al-Qur’an dan sambutan sambutan, yang membedakan dengan acara lain adalah, pemaparan materi oleh pembicara yang begitu rinci menjelaskan dan mendudukkan persoalan kebhinekaan dan Islam, pemateri pertama DR.Waluyo Sukarsono,CES.,DEA Ketua HTI DPD II Purwakarta menjelaskan tentang makna kebhinekaan, beliau terutama menyoroti adanya upaya yang menjadikan kebhinekaan sebagai alat untuk memojokan Islam

Lebih jauh lagi, pembicara kedua Ustad Roni Ruslan selaku Pimpinan PonPes Darussalaam Purwakarta juga memaparkan isu yang paling panas saat ini, yaitu pemimpin kafir, beliau menjelaskan bahwa salah satu syarat seorang pemimpin adalah muslim, sehingga tidak diperbolehkan pemimpin kafir disamping syarat syarat lain seperti Baligh, Berakal dan Mampu.


Menariknya tema yang diangkat membuat peserta penasaran sehingga suasana diologis interaktif bener hidup dalam sesi Tanya jawab. Tak kurang 20an peserta mengangkat tangan saat moderator membuka sesi Tanya jawab, tetapi karena terbatasnya waktu, hanya 4 penanya yang diberi kesempatan dalam 2 termin. 

Pertanyaan dari peserta juga tidak kalah menarik, mulai isu Hari tanoe dengan Yayasan Peduli Pesantren, tafsir Al-Maidah 51, aksi 212, dijelaskan oleh pembicara bahwa itu bisa jadi merupakan bagian langkah terorganisir untuk mendapatkan simpati masyarakat dengan harapan bisa dipilih untuk jadi pemimpin, sebagai penutup Ust.Roni menjelaskan bahwa persoalan Ahox sebagai pemimpin kafir bukanlah persoalan utama, masalah pemimpin kafir juga ada di daerah lain. Justru sistem demokrasi inilah yg jadi masalah, demokrasi yang membuka jalan orang kafir bisa berkuasa. Solusinya adalah dengan Syariah Islam, seorang pemimpin “harus Muslim” dan “mau menjalankan hukum Syariah islam.

  Mengingat menariknya acara dan tema yang digagas muncul harapan harapan dari peserta agar acara semacam ini dilanjutkan dengan follow up berkelanjutan dan tidak berhenti selesai begitu acara HIP selesai, semoga tim Panitia acara bisa memenuhi harapan peserta dan membuat forum lanjutan dari acara ini. (Adam)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s