All posts by muslimnetworks

Creative Muslim 2016

Khilafah dalam Persepektif Islam (Penjelasan Para Ulama Mu’tabar)

Irfan Abu Naveed, M.Pd.I[1]

Prinsip yang harus kaum Muslim untuk memahami hakikat Khilafah di tengah gencarnya syubhat adalah: mengembalikan topik agung ini kepada pokok pembahasannya dalam Islam. Sehingga mendudukkannya sebagaimana sikap Rasulullah SAW dan para sahabat, tak terpedaya penyesatan opini yang digencarkan oleh mereka yang gelap mata, mendikte Khilafah dengan kacamata kuda peradaban Barat. Padahal topik ini telah diulas para ulama rabbani pewaris para nabi, dengan pembahasan yang mapan tak mengandung kecacatan, gamblang tak mengandung kesamaran, Allah al-Musta’an.

A. Pengertian Khilafah

Asal usul kata khilâfah, kembali kepada ragam bentukan kata dari kata kerja khalafa. Al-Khalil bin Ahmad (w. 170 H) mengungkapkan:fulân[un] yakhlufu fulân[an] fî ‘iyâlihi bi khilâfat[in] hasanat[in].[2] Yang menggambarkan estafeta kepemimpinan, hal senada diungkapkan oleh al-Qalqasyandi (w. 821 H),[3] salah satu contohnya dalam QS. Al-A’râf [7]: 142. Al-Qalqasyandi menegaskan bahwa khilafah secara’urf lantas disebut untuk kepemimpinan agung, memperkuat makna syar’inya yang menggambarkan kepemimpinan umum atas umat, menegakkan berbagai urusan dan kebutuhannya.[4]

Namun bukan sembarang kepemimpinan, melainkan kepemimpinan yang menjadi pengganti kenabian dalam memelihara urusan Din ini, dan mengatur urusan dunia dengannya, ditegaskan Imam al-Mawardi (w. 450 H)[5], Imam al-Haramain al-Juwaini (w. 478 H)[6] dan para ulama lainnya. Dari Abu Hurairah r.a., Nabi SAW bersabda:

«كَانَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ تَسُوسُهُمْ الْأَنْبِيَاءُ كُلَّمَا هَلَكَ نَبِيٌّ خَلَفَهُ نَبِيٌّ وَإِنَّهُ لَا نَبِيَّ بَعْدِي وَسَيَكُونُ خُلَفَاءُ فَيَكْثُرُونَ»

“Adalah bani Israil, urusan mereka diatur oleh para nabi. Setiap seorang nabi wafat, digantikan oleh nabi yang lain, sesungguhnya tidak ada nabi setelahku, dan akan ada para Khalîfah yang banyak.” (HR. Muttafaqun ’alayh)

Dengan kata lain, kepemimpinan dengan ruh Islam ini menjadi menjadi ciri khas mulia, membedakannya dengan sistem sekular yang mengundang malapetaka. Inilah yang diungkapkan Al-Qadhi Taqiyuddin al-Nabhani, menjelaskan makna syar’i secara mapan digali dari nas-nas syar’i, bahwa Khilafah adalah“kepemimpinan umum bagi seluruh kaum Muslim di dunia, untuk menegakkan hukum-hukum syari’at Islam dan mengemban dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia.”

Yakni mengemban dakwah dengan hujjah dan jihad.[7]

B. Istilah Khilâfah dan Imâmah

Istilah khilafah, diungkapkan pula oleh para ulama dengan istilah imamah, yakni al-imâmah al-’uzhmâ, keduanya bentuk sinonim (mutarâdif) karena esensinya sama, yakni topik kepemimpinan dalam Islam. Prof. Dr. Wahbah al-Zuhaili menjelaskan bahwa al-imâmah al-’uzhmâ, al-khilâfah, atau imârat al-mu’minîn, seluruhnya semakna.[8] Hal ini pun ditegaskan oleh Dr. Shalah al-Shawi.[9] Hal itu terbukti ketika sebagian ulama mengeksplorasi kedua istilah ini secara bersamaan, semisal Imam al-Mawardi.[10]

Hal ini menggugurkan klaim orang yang menyimpangkan aqwâl ulama dalam topik al-imâmah, untuk menjustifikasi kepemimpinan di luar Islam yang sekularistik. Padahal setiap sistem politik, dibangun dari berbagai karakteristik yang membedakan satu sama lain, dari persoalan prinsip hingga cabangnya: antara Islam dan sekularisme yang menjadi pijakan Demokrasi jelas bertentangan secara asasi. Karakteristik ini ditegaskan para pakar kontemporer, semisal Dr. Shalah Al-Shawi.[11]

C. Dasar Kewajiban Menegakkan Khilafah

Dalam perinciannya, kewajiban menegakkan khilafah merupakan perkara yangma’lûm disepakati salaful ummah dan ulama ahlus sunnah, bahkan disebut-sebut sebagai salah satu kefardhuan agama tersebar, diuraikan dalamturâts para ulama dengan perincian dalil:

Pertama, Al-Qur’an

Dalil pertama, Allâh memerintahkan kita mena’atiulil amri dalam QS. Al-Nisâ’ [4]: 59. Maka berdasarkan dalâlah al-iltizam, perintah menta’atiulil amri pun merupakan perintah mewujudkannya sehingga kewajiban tersebut terlaksana. Maka ayat tersebut pun mengandung petunjuk, wajibnya mengadakan ulil amri (Khalifah) dan sistem syar’inya (Khilafah).

Dalil kedua, Dalam banyak ayat al-Qur’an, Allah mewajibkan kaum Muslim menegakkan syari’at Islam (lihat: QS. Al-Baqarah [2]: 208, QS. Al-Mâ’idah [5]: 48), namun penerapannya takkan sempurna kecuali dengan tegaknya Khilafah, maka menegakkannya wajib, sesuai kaidah syar’iyyah:

مَا لاَ يَتِمُّ الْوَاجِبُ إِلاَّ بِهِ فَهُوَ وَاجِبٌ

Hal-hal dimana suatu kewajiban tidak sempurna kecuali dengannya, maka hukumnya pun wajib.[12]

Para ulama pun menjadikan kaidah ini: penguat hujjah wajibnya khilafah, penerapannya dijelaskan oleh Imam al-Naisaburi (w. 850 H):Umat ini (ulama) bersepakat bahwa yang diseru dari firman-Nya: ”Jilidlah” adalah Imam hingga mereka pun berhujjah dengannya atas kewajiban mengangkat Imam (Khalifah), karena sesungguhnya hal dimana kewajiban takkan sempurna kecuali dengannya maka hal tersebut menjadi wajib adanya.”[13]

Kedua, Al-Sunnah

Banyak dalil-dalil al-Sunnah yang mendasarinya: hadits dari Abu Hurairah r.a., bahwa Nabi SAW bersabda:

«إِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ»

Sesungguhnya al-imam (khalifah) itu perisai, dimana (orang-orang) akan berperang mendukungnya dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan) nya.” (HR. Muttafaqun ’Alaih)

Hadits ini mengandung pujian yang sangat kuat terhadap sosok Khalifah, karena maksud dari al-Imâm dalam hadits ini adalah Khalîfah,ditegaskan al-Mulla al-Qari (w. 1041 H),[14]dimana pujian tersebut -dalam ilmu balaghah- ditunjukkan oleh dua hal: ungkapan qashr(pengkhususan) dan tasybîh mu’akkad(penyerupaan tegas) yang menyerupakan Khalifah sebagai perisai kaum Muslim. Jika adanya “hal yang dipuji” tersebut menjadi sebab tegaknya hukum Islam, sebaliknya jika ia tiada menyebabkan hukum Islam terbengkalai, maka pujian tersebut merupakan qarînah jazîmah(indikasi tegas) bahwa “hal yang dipuji” tersebut hukumnya wajib. Yakni tegaknya sistem Khilafah. Dalil lainnya, Rasulullah SAW bersabda:

«مَنْ مَاتَ وَلَيْسَ فِي عُنُقِهِ بَيْعَةٌ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً»

“Barangsiapa yang mati sedangkan dipundaknya tiada bai’at (kepada Khalîfah), maka ia mati seperti mati jahiliyyah.” (HR. Muslim)

Bai’at secara terminologis adalah hak umat dalam melaksanakan akad penyerahan kekhilafahan. Para ulama menegaskan bahwa bai’at merupakan metode syar’i mengangkat Khalîfah.[15] Nabi SAW telah mewajibkan adanya bai’at di pundak setiap muslim, dengan qarînah jâzimah adanya ancaman tasybîh: mati seperti mati jahiliyyah, menurut al-Hafizh Ibn Hajar al-‘Asqalani (w. 852 H) yakni mati dalam keadaan bermaksiat.[16]

Hadits ini mewajibkan adanya bai’at di atas pundak setiap Muslim, dan bai’at tidak diberikan kecuali kepada Khalifah, maka ini menjadi dalil wajibnya mengadakan Khalifah, menegakkan sistem Khilafah dengan tempo tiga hari. Imam Ibn Hubairah (w. 560 H) menjelaskan hadits ini menegaskan:

“Yakni jika tiada Imam/Khalifah baginya, dan ini menunjukkan bahwa tidak boleh terjadi kekosongan yang meliputi kaum Muslim, lebih dari tiga hari sebagai tempo syura’ (dari ketiadaan khilafah), kecuali di pundak mereka terdapat bai’at terhadap seorang Khalifah tempat kembali mereka.”[17]

Ketiga, Ijma’ Sahabat

Jika konsep khilafah dipertentangkan dengan konsep lain yang mengatasnamakan kesepakatan, maka harus kembali kepada prinsip bahwa ijma’ sahabat, menurut ahl al-’ilm, menjadi hujjah syar’i berdasarkan dalil QS. Al-Taubah [9]: 100, diunggulkan atas kesepakatan manusia manapun. Dimana sahabat berijma’ atas wajibnya menegakkan khilafah, mengangkat khalifah. Al-Qadhi Abu Ya’la al-Farra (w. 458 H) ketika mengomentari peristiwa bersejarah diskusi alot antara tokoh-tokoh Kaum Anshar dan Kaum Muhajirin menegaskan: Jika seandainya al-Imamah (Khilafah) itu tidak wajib, maka takkan berlangsung diskusi alot tersebut dan dialog tentangnya.”[18]

Sebelumnya, al-Farra menegaskan bahwa Khilafah hukumnya wajib berdasarkan dalil al-sam’u (yakni dalil-dalil naqli).[19] Penjelasan senada ditegaskan oleh al-Hafizh al-Qurthubi (w. 671 H) dalam kitab tafsirnya.[20] Di sisi lain, para sahabat pun lebih mendahulukan pengangkatan Khalifah daripada pemakaman jenazah Rasulullah SAW, sebagaimana ditegaskan olehImam al-Khaththabi (w. 388 H). Setelah menjelaskan ijma’ sahabat ini, al-Khaththabi (w. 388 H) lalu menegaskan:

وذلك من أدل الدليل على وجوب الخلافة وأنه لا بد للناس من إمام يقوم بأمر الناس ويمضي فيهم أحكام الله ويردعهم عن الشر ويمنعهم من التظالم والتفاسد

“Dan dalil tersebut (ijma’ sahabat) merupakan sejelas-jelasnya dalil atas wajibnya menegakkan al-Khilafah dan bahwa harus ada seorang Imam (Khalifah) bagi masyarakat yang berdiri memerintah dan mengatur mereka dengan hukum-hukum Allah, menjauhkan mereka dari keburukan, menghalangi mereka saling menzhalimi dan merusak.”[21]

Maka tak mengherankan jika para ulama pun menegaskan kesepakatan mereka atas wajibnya menegakkan Khilafah. Imam Ibn Hazm(w. 456 H) mendokumentasikan: Mereka (para ulama) sepakat bahwa imamah itu fardhu dan adanya Imam itu merupakan suatu keharusan.[22]

D. Pilar-Pilar Khilafah

Para ulama, menjelaskan empat pilar politik Islam dalam sistem Khilafah:

Pertama, Kedaulatan di tangan syara’ (al-siyâdah li al-syar’i), yang menjamin penegakkan hukum al-Qur’an dan al-Sunnah dalam kehidupan, mengundang keberkahan dari Allah, menebarkan rahmat bagi alam semesta.

Kedua, Kekuasaan milik umat (al-sulthân li al-ummah), yakni dengan adanya hak bai’at untuk mengangkat khalifah, yang dibai’at untuk menegakkan hukum al-Qur’an dan al-Sunnah, yang menjamin terealisasinya kepemimpinan yang amanah menegakkan syari’at Islam.

Ketiga, Kewajiban adanya satu kepemimpinan Khalifah untuk seluruh umat (wujûb al-khalîfah al-wahîd li al-muslimîn), yang menjamin realisasi kesatuan kaum Muslim dalam satu institusi super power untuk menegakkan Islam dalam kehidupan.

Keempat, Khalifah berhak mengadopsi hukum (li al-khalîfah haq al-tabanni), yang menjamin kesatuan kaum Muslim, menjaganya dari ancaman perpecahan. Adopsi hukum yang berkaitan dengan kesatuan kaum Muslim, dimana tanpa kesatuan ini kaum Muslim akan berpecah belah.

E. Khatimah

Khilafah, terang benderang sebagai bagian dari ajaran Islam yang mulia, memuliakan mereka yang mengemban dan memperjuangkannya, seterang mentari terbit tak terhalang awan bagi ia yang teguh meniti jalan Rasul-Nya:

فَتَقَدَّمِيْ نَحْوَ العُلاَ وَتَزَوِّدِيْ * مِنْ مَنْهَلٍ مَا خَابَ مَنْ يَتَزَوَّدُ

Maka majulah menuju kemuliaan dan siapkanlah perbekalan * dari mata air kemuliaan, karena takkan menyesal orang yang menyiapkan perbekalan.”


[1] Mudir & Pengasuh Ma’had Du’at al-Furqan

[2] Al-Khalil bin Ahmad, Kitâb al-‘Ain, Dâr al-Hilâl, IV/268

[3] Ahmad bin Ali al-Qalqasyandi, Ma’âtsir al-Inâfah fî Ma’alim al-Khilâfah, Hukumat al-Kuwait, I/8

[4] Ibid.

[5] Abu al-Hasan al-Mawardi, Al-Ahkâm al-Sulthâniyyah,Dâr al-Hadîts, I/15

[6] Abu al-Ma’ali al-Juwaini, Ghiyâts al-Umam fî al-Tiyâts al-Zhulm, Maktabat al-Imâm, I/22

[7] Al-Juwaini, Ghiyâts al-Umam, I/22

[8] Wahbah al-Zuhaili, Al-Fiqh al-Islâmi wa Adillatuhu,Dâr al-Fikr, VIII/6144

[9] Dr. Shalah Al-Shawi, Al-Wajîz fî Fiqh Al-Khilâfah, Dâr al-I’lâm, hlm. 5

[10] Al-Mawardi, Al-Ahkâm al-Sulthâniyyah, I/15

[11] Dr. Shalah Al-Shawi, Al-Wajîz, hlm. 7

[12] Tajuddin ‘Abdul Wahhab al-Subki, Al-Asybâh wa al-Nazhâ’ir, Dâr al-Kutub al-Ilmiyyah, II/88

[13] Nizhamuddin al-Naisaburi, Gharâ’ib al-Qur’ân wa Raghâ’ib al-Furqân, Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyyah, V/148

[14] Al-Mulla Ali al-Qari, Mirqât al-Mafâtîh, Dâr al-Fikr, VI/2391

[15] Hal ini disimpulkan dari ulasan para ulama terkait bai’at untuk khalifah, misalnya dalam kitab al-Ahkâm al-Sulthaniyyah karya Imam al-Mawardi.

[16] Ahmad bin Ali al-Asqalani, Fath al-Bâri, Dâr al-Ma’rifah, XIII/7

[17] Yahya bin Hubairah al-Syaibani, Al-Ifshâh ‘An Ma’âni al-Shihâh, Dâr al-Wathan, IV/262

[18] Abu Ya’la al-Farra, Al-Ahkâm al-Sulthâniyyah, Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyyah, I/19

[19] Ibid

[20] Abu Abdullah Al-Qurthubi, Al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân, Dâr ‘Âlam al-Kutub, I/264

[21] Abu Sulaiman al-Khathabi, Ma’âlim al-Sunan, Al-Mathba’ah al-‘Ilmiyyah, III/6

[22] Ibn Hazm Al-Andalusi, Marâtib al-Ijmâ’, Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyyah, I/124

Advertisements

​⁠⁠⁠JADIKAN AR RAYAH SEBAGAI BARANG BUKTI TERORIS, POLRI KEMBALI INGIN KRIMINALKAN SIMBOL ISLAM

Barang Bukti Teroris versi Polri
Barang Bukti Teroris

Setelah Umat Islam mulai mengenal dan mencintai bendera Islam Al Liwa (bendera putih tulisan tauhid hitam) dan Ar Rayah (panji hitam tulisan tauhid putih), Polisi kembali memainkan dapur opininya untuk memonsterisasi bendera mulia ini.

Sebagaimana dilansir detikNews hari ini 15/12, Kadiv Humas Polri Irjen Rafli Amar melakukan jumpa pers untuk menunjukkan barang bukti teroris #BomPanci di Bekasi beberapa waktu yang lalu. Di antara barang bukti itu ada senapan angin, pisau, mandau, celurit, rice cooker, tabung reaksi, dan bendera Ar Rayah.
Tentu kita bertanya-tanya, kenapa Bendera Ar Rayah dimasukan sebagai barang bukti kegiatan teror? Sebagaimana dulu polisi juga pernah memasukkan Al Qur’an dan Kitab Tafsir sebagai barang bukti teroris.
Tujuan yang pasti dari semua itu adalah monsterisasi simbol-simbol Islam. Sungguh ini merupakan penghinaan yang keji dan keterlaluan.
Ketahuilah Pak Polisi, apapun tendensi kalian menempatkan bendera Ar Rayah itu sedemikian rupa, sehingga orang2 mengidentikkan bendera ini dengan kegiatan terorisme, adalah sebuah tindakan berbahaya yang harus kalian pertanggungjawabkan.
Kalian memang punya dapur opini yang bisa dengan mudah dimainkan, karena kalian adalah sumber berita. Teruskan saja propaganda busuk itu, tapi mohon ketahui bendera ini akan terus berkibar dalam dada kami, dan terus menyebar ke pelosok negeri yang damai ini.

.

*Titip salam buat pemain drama bom panci yang bikin masalah di negara ini tambah runyam.
Itu aja.

Ridwan Taufik Kurniawan, Pengasong Liwa Royah

Halb (ALEPPO)

​Ya Alloh selamatkan saudara-saudara kami di Halb (Aleppo).

Ya Alloh lindungi saudara-saudara kami di Halb (Aleppo).

Juga saudara-saudara kami di seluruh dunia.
Wahai penguasa negeri-negeri Muslim, mana pasukanmu yang Kalian pamerkan senjatanya, yang Kalian banggakan jumlahnya, yang Kau paradekan berkilo-kilo meter.
Wahai penguasa negeri-negeri Muslim, tunjukkan Dirimu sebagai pembawa kembalinya kejayaan Kekhilafahan Utsmani, sebagai pembela negeri tauhid, sebagai penguasa negeri Muslim terbesar, sebagai penguasa kekayaan alam terbesar … 
Saudara-saudara kalian di Halb (Aleppo) “menagih” bukti keimanan Kalian.

​ISLAM & KEBHINEKAAN

HTI-Press; Tema menarik digagas dalam acara Halaqoh Islam dan Peradaban (HIP) Hizbut tahrir Indonesia DPD II Purwakarta, yaitu “Islam dan Kebhinekaan” menarik, karena ini merupakan isu yang lagi hangat diperbincangkan masyarakat Indonesia, menarik karena ada pihak pihak tertentu yang mencoba meletakkan kebhinekaan sebagai tameng pelindung penistaan agama, menarik karena secara fakta masyarakat Indonesia memang bhineka, menarik tentu saja karena diulas dari sudut pandang Islam diulas oleh pakar yang memiliki kompetensi di bidangnya.

HIP kali ini dihelat di tempat iconic menarik yang sangat dikenal masyarakat Purwakarta tepatnya di Aula Gedung Rabbani Jl. RE. Martadinata Purwakarta hari Sabtu, 10 Desember 2016 dari pukul 08.30 sampai 11.30. tak kurang 300an elemen dan tokoh masyarakat antusias mengikuti acara ngaji yang dikemas modern ala HIP, tokoh masyarakat seperti Ustadz Asep jamaludin dari Tim Fatwa MUI purwakarta juga tidak ingin ketinggalan mengikuti acara ini hingga akhir.


Seperti pada umumnya acara dibuka oleh MC dilanjutkan dengan Tilawah Al-Qur’an dan sambutan sambutan, yang membedakan dengan acara lain adalah, pemaparan materi oleh pembicara yang begitu rinci menjelaskan dan mendudukkan persoalan kebhinekaan dan Islam, pemateri pertama DR.Waluyo Sukarsono,CES.,DEA Ketua HTI DPD II Purwakarta menjelaskan tentang makna kebhinekaan, beliau terutama menyoroti adanya upaya yang menjadikan kebhinekaan sebagai alat untuk memojokan Islam

Lebih jauh lagi, pembicara kedua Ustad Roni Ruslan selaku Pimpinan PonPes Darussalaam Purwakarta juga memaparkan isu yang paling panas saat ini, yaitu pemimpin kafir, beliau menjelaskan bahwa salah satu syarat seorang pemimpin adalah muslim, sehingga tidak diperbolehkan pemimpin kafir disamping syarat syarat lain seperti Baligh, Berakal dan Mampu.


Menariknya tema yang diangkat membuat peserta penasaran sehingga suasana diologis interaktif bener hidup dalam sesi Tanya jawab. Tak kurang 20an peserta mengangkat tangan saat moderator membuka sesi Tanya jawab, tetapi karena terbatasnya waktu, hanya 4 penanya yang diberi kesempatan dalam 2 termin. 

Pertanyaan dari peserta juga tidak kalah menarik, mulai isu Hari tanoe dengan Yayasan Peduli Pesantren, tafsir Al-Maidah 51, aksi 212, dijelaskan oleh pembicara bahwa itu bisa jadi merupakan bagian langkah terorganisir untuk mendapatkan simpati masyarakat dengan harapan bisa dipilih untuk jadi pemimpin, sebagai penutup Ust.Roni menjelaskan bahwa persoalan Ahox sebagai pemimpin kafir bukanlah persoalan utama, masalah pemimpin kafir juga ada di daerah lain. Justru sistem demokrasi inilah yg jadi masalah, demokrasi yang membuka jalan orang kafir bisa berkuasa. Solusinya adalah dengan Syariah Islam, seorang pemimpin “harus Muslim” dan “mau menjalankan hukum Syariah islam.

  Mengingat menariknya acara dan tema yang digagas muncul harapan harapan dari peserta agar acara semacam ini dilanjutkan dengan follow up berkelanjutan dan tidak berhenti selesai begitu acara HIP selesai, semoga tim Panitia acara bisa memenuhi harapan peserta dan membuat forum lanjutan dari acara ini. (Adam)

Akibat Buruk Bangga Bermaksiat & Berbuat Dosa

Maksiat
Maksiat sebab hilangnya keberkahan

Oleh: Badrul Tamam

Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada baginda Rasulillah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, keluarga dan para sahabatnya serta umatnya hingga akhir zaman.

Musibah terbesar yang menimpa jiwa adalah lalai dari petunjuk dan berpaling dari jalan lurus karena mengikuti hawa nafsu dan mengutamakan kehidupan dunia. Musibah ini bisa mematikan hati dan menghancurkan badan. Sehingga tepatlah jika Allah banyak mencela orang-orang yang lalai, menyebut mereka dengan sifat-sifat buruk, dan mengancam dengan siksa dahsyat.

Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ لَا يَرْجُونَ لِقَاءَنَا وَرَضُوا بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاطْمَأَنُّوا بِهَا وَالَّذِينَ هُمْ عَنْ آيَاتِنَا غَافِلُونَ أُولَئِكَ مَأْوَاهُمُ النَّارُ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami, mereka itu tempatnya ialah neraka, disebabkan apa yang selalu mereka kerjakan.” (QS. Yunus: 7-8)

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (QS. Al-a’raf: 179)

Orang-orang lalai lebih sesat daripada binatang ternak. Nerakalah balasan atas kelalaian mereka, dan neraka itu seburuk-buruk tempat tinggal. Hal itu disebabkan, mereka membatasi tujuan hidup mereka hanya pada makan, minum, dan mendapatkan kenikmatan. Mereka larut dalam hawa nafsu dan menikmati syahwat. Mereka lalai dari ketaatan kepada pencipta langit dan bumi, Allah Subhanahu wa Ta’ala. Telinga mereka tuli dari mendengarkan kebenaran. Mata mereka buta dari mengambil pelajaran. Hati mereka lengah dari al-haq. Ayat-ayat telah dibacakan kepada mereka dan argumentasi kebenaran pun telah ditegakkan, tapi mereka lalai dari semua itu. Pelajaran-pelajaran besar tidak dihiraukan. Peringatan-peringatan tidak diindahkan. Mereka larut dalam kesenangan dan kelalaian. Angan-angan mereka terlalu panjang sehingga melalaikan dari ketaatan dan tidak meninggalkan kesesatan. Lalu datang siksa Allah secara tiba-tiba saat mereka larut dalam kemaksiatannya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَكَمْ مِنْ قَرْيَةٍ أَهْلَكْنَاهَا فَجَاءَهَا بَأْسُنَا بَيَاتًا أَوْ هُمْ قَائِلُونَ * فَمَا كَانَ دَعْوَاهُمْ إِذْ جَاءَهُمْ بَأْسُنَا إِلَّا أَنْ قَالُوا إِنَّا كُنَّا ظَالِمِينَ

Betapa banyaknya negeri yang telah Kami binasakan, maka datanglah siksaan Kami (menimpa penduduk) nya di waktu mereka berada di malam hari, atau di waktu mereka beristirahat di tengah hari. Maka tidak adalah keluhan mereka di waktu datang kepada mereka siksaan Kami, kecuali mengatakan: “Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zalim”.” (QS. Al-A’raf: 4-5)

Mereka menyadari kesalahan, tapi tidak lekas taubat. “Maka mengapa mereka tidak memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri ketika datang siksaan Kami kepada mereka, bahkan hati mereka telah menjadi keras dan setan pun menampakkan kepada mereka kebagusan apa yang selalu mereka kerjakan. Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami-pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa. Maka orang-orang yang lalim itu dimusnahkan sampai ke akar-akarnya. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. Al-An’am: 43-45)

Di antara fenomena kerasnya hati dan lalai dari mendekatkan diri kepada penguasa alam raya, manusia tidak menghiraukan peringatan Allah dalam Kitabnya dan terus-menerus bermaksiat di sepanjang waktu, baik siang atau malam. Kebanyakan mereka terus melakukan perbuatan yang mendatangkan kemurkaan-Nya. Riba yang Allah nyatakan perang terhadap pelakunya marak dilakukan dan menjadi satu sistem yang tak bisa lepas dari perekonomian mereka. Hampir semua pedagang dan pebisnis, baik muslim atau non-muslim, tidak lepas darinya.

Begitu juga urusan shalat. Banyak orang secara terang-terangan meninggalkannya. Masjid-masjid sepi dari shalat berjamaan kecuali pada momen-momen tertentu saja.

Demikian pula dengan puasa. Saat sudah sampai dipertengahan bulan, orang-orang sudah tidak lagi sungkan makan, minum, merokok di jalanan. Padahal penduduk negeri ini mayoritas muslim.

Dalam urusan harta, kebanyakan orang enggan mengeluarkan sebagian dari rizki yang telah Allah anugerahkan untuk zakat, infak dan sedekah. Mereka lebih suka menghabiskan harta untuk menuruti syahwat haramnya.

Berapa banyak rumah-rumah kaum muslimin yang diisi dengan patung, lukisan dan film-film yang menjijikkan. Suara musik dan nyanyian yang menjauhkan malaikat rahmat dari memasukinya. Kaum wanitanya, terbiasa keluar rumah dalam kondisi telanjang mengungmbat auratnya. Dan masih banyak lagi kemungkaran-kemungkaran lainnya yang dipertontonkan di tengah masyarakat yang mayoritas beragama Islam ini.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ أَفَأَمِنَ أَهْلُ الْقُرَى أَنْ يَأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا بَيَاتًا وَهُمْ نَائِمُونَ أَوَأَمِنَ أَهْلُ الْقُرَى أَنْ يَأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا ضُحًى وَهُمْ يَلْعَبُونَ أَفَأَمِنُوا مَكْرَ اللَّهِ فَلَا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ أَوَلَمْ يَهْدِ لِلَّذِينَ يَرِثُونَ الْأَرْضَ مِنْ بَعْدِ أَهْلِهَا أَنْ لَوْ نَشَاءُ أَصَبْنَاهُمْ بِذُنُوبِهِمْ وَنَطْبَعُ عَلَى قُلُوبِهِمْ فَهُمْ لَا يَسْمَعُونَ

Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur? Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain? Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiadalah yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang-orang yang merugi. Dan apakah belum jelas bagi orang-orang yang mempusakai suatu negeri sesudah (lenyap) penduduknya, bahwa kalau Kami menghendaki tentu Kami azab mereka karena dosa-dosanya; dan Kami kunci mati hati mereka sehingga mereka tidak dapat mendengar (pelajaran lagi)?” (QS. Al-A’raf: 96-100)

Sungguh tidaklah Allah menyiksa suatu kaum melainkan saat mereka lalai dan menyimpang. Mereka tertipu dengan kenikmatan-kenikmatan duniawi yang diperolehnya. Maka jika engkau lihat Allah memberikan dunia melimpah kepada manusia di atas kemaksiatan terhadap-Nya, ketahuilah, Allah sedang ingin menarik mereka kepada kebinasaan secara berlahan-lahan dengan cara yang tidak mereka ketahui. “Dan Aku memberi tangguh kepada mereka. Sesungguhnya rencana-Ku amat teguh.” (QS. Al-A’raf: 183)

Kesengajaan melakukan kesalahan, terang-terangan melakukan kemaksiatan, mengulang-ulang perbuatan dosa, dan meremahkan ancaman Allah merupakan kezaliman di atas kezaliman. Karenanya Allah menyiapkan hukuman berat atas dosa besar ini sehingga mengharamkan ampunan-Nya atas mereka.

وَلَيْسَتِ التَّوْبَةُ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ حَتَّى إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ إِنِّي تُبْتُ الْآنَ وَلَا الَّذِينَ يَمُوتُونَ وَهُمْ كُفَّارٌ أُولَئِكَ أَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا

Dan tidaklah tobat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan: “Sesungguhnya saya bertobat sekarang” Dan tidak (pula diterima tobat) orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan siksa yang pedih.” (QS. Al-Nisa’: 18)

Allah menyamakan orang yang terus-menerus melakukan dosa sehingga kematian menjemput dan orang yang tetap kafir sampai datangnya kematian dengan ditiadakan taubat dari mereka. Wal’iyadhu billah!

Dalam hadits shahih disebutkan, “Setiap umatku dimaafkan (kesalahannya) kecuali al-mujahirun.” Yakni orang yang berbangga dengan kemaksiatannya dan tidak lekas bertaubat dengan meninggakan dosa.

. . . Hindari sikap berbangga dengan maksiat dan jangan terus-menerus mengerjakannya. Jangan remehkan ancaman Allah dan siksa-Nya. Sungguh semua itu adalah sebab datangnya kebinasaan. . .

Karenanya wahai saudaraku, teruslah bertakwa kepada Allah. Bersungguh-sungguhlah dalam menjalankan ketaatan kepada-Nya. Hindari sikap berbangga dengan maksiat dan jangan terus-menerus mengerjakannya. Jangan remehkan ancaman Allah dan siksa-Nya. Sungguh semua itu adalah sebab datangnya kebinasaan. Jika Anda tergelincir kepada kesalahan segeralah menyesal dan bertaubat sebelum habis kesempatan. Sesungguhnya setiap anak Adam (manusia) pastilah berbuat salah, namun sebaik-baik mereka yang berbuat salah adalah mereka yang segera bertaubat.

Perbaiki hati dari kerusakannya dan titilah jalan kebenaran dalam ucapan, perbuatan dan mu’amalah kalian, semoga Allah akan memperbaiki kondisi kalian. Wallahu Ta’ala A’lam. [PurWD/voa-islam.com]