Category Archives: opini

​⁠⁠⁠JADIKAN AR RAYAH SEBAGAI BARANG BUKTI TERORIS, POLRI KEMBALI INGIN KRIMINALKAN SIMBOL ISLAM

Barang Bukti Teroris versi Polri
Barang Bukti Teroris

Setelah Umat Islam mulai mengenal dan mencintai bendera Islam Al Liwa (bendera putih tulisan tauhid hitam) dan Ar Rayah (panji hitam tulisan tauhid putih), Polisi kembali memainkan dapur opininya untuk memonsterisasi bendera mulia ini.

Sebagaimana dilansir detikNews hari ini 15/12, Kadiv Humas Polri Irjen Rafli Amar melakukan jumpa pers untuk menunjukkan barang bukti teroris #BomPanci di Bekasi beberapa waktu yang lalu. Di antara barang bukti itu ada senapan angin, pisau, mandau, celurit, rice cooker, tabung reaksi, dan bendera Ar Rayah.
Tentu kita bertanya-tanya, kenapa Bendera Ar Rayah dimasukan sebagai barang bukti kegiatan teror? Sebagaimana dulu polisi juga pernah memasukkan Al Qur’an dan Kitab Tafsir sebagai barang bukti teroris.
Tujuan yang pasti dari semua itu adalah monsterisasi simbol-simbol Islam. Sungguh ini merupakan penghinaan yang keji dan keterlaluan.
Ketahuilah Pak Polisi, apapun tendensi kalian menempatkan bendera Ar Rayah itu sedemikian rupa, sehingga orang2 mengidentikkan bendera ini dengan kegiatan terorisme, adalah sebuah tindakan berbahaya yang harus kalian pertanggungjawabkan.
Kalian memang punya dapur opini yang bisa dengan mudah dimainkan, karena kalian adalah sumber berita. Teruskan saja propaganda busuk itu, tapi mohon ketahui bendera ini akan terus berkibar dalam dada kami, dan terus menyebar ke pelosok negeri yang damai ini.

.

*Titip salam buat pemain drama bom panci yang bikin masalah di negara ini tambah runyam.
Itu aja.

Ridwan Taufik Kurniawan, Pengasong Liwa Royah

Menilai Tangisan Ahok

Ahok
Ahok

Diawal sidang perdananya saat membaca nota keberatannya Ahok menangis, tangisan ini Ahok ini sebenarnya cukup mengangetkan karena Ahok selama ini dikenal keras dan tidak takut apapun dengan apa yabg dia jalani, tapi tangisan ini bisa di tafsirkan berbeda-beda. Mungkin orang menganggap ini adalah drama atau mungkin ini membuktikan bahwa Ahok memang manusia yang punya kelemahan.
Bagaimana menilai tangisan ini? Saya lebih cenderung ingin membandingkan tangisan Ahok dan tangisan Jesica di persidangannya. Meskipun kasusnya berbeda tapi mereka sama-sama menangis. Ketika diawal kasus pembunuhan Mirna mencuat ke publik, Jessica kerap mendapatkan cemooh dari publik. Bisa dikatakan bahwa jesica telah kalah dipengadilan publik sebelum kalah dimeja hijau. Bahkan pada awal persidangan menurut pengacaranya jesica mendapat perlakuan tidak menyenangkan.

Menurut beberapa Ahli psikolog menganggap pribadi jesica memang adalah pribadi yang kuat dan tegar dalam menghadapi masalah termasuk masalah pembunuhan Mirna ini. Namun tetap saja jesica adalah manusia, hal itu terbukti pada saat jesica membacakan pledoi pembelaan dirinya didepan majelis hakim, jesica menangis. Tangisan ini sepertinya mempunyai efek, meski jesica tetap dijatuhkam hukuman 20 tahun namun menurut pengacaranya Otto Hasibuan yang mengklaim kliennya mendapat dukungan luar biasa besar dari masyarakat di dalam dan luar negeri terkait kasus yang dihadapinya, hingga orang-orang yang awalnya mencemooh kini berbalik mendukung.
Jika kita membandingkan sebenarnya, meskipun saat ini Ahok telah kalah pada pengadilan publik. Dan dia juga menyadari bahwa untuk lepas dari hukuman meja hijau juga akan sulit. Sehingga Tangisan Ahok bisa saja adalah bagian untuk meminta ampun pada publik mencari simpati publik. Hal itu ditegaskan dengan beberapa kali Ahok meminta maaf kepada umat islam sebelum sidang perdananya dimulai.
Jadi, jika nanti Ahok tetap di hukum dengan putusan hakim pengadilan dengan penjara 5 tahun. Mungkin saja bagi Ahok dengan menangis dia bisa selamat dr penghakiman publik khususnya umat islam terhadap dirinya, karena dengan menangis publik akan simpatik dan dukungan akan datang sebagaimana yang dialami oleh Jesica.
-Muslim Analyze

Oleh:

Imaduddin Al Faruq

Bhinneka Tunggal Ika ; Terwujud hanya dengan Islam

Bhinneka Tunggal Ika & Islam
Bhinneka Tunggal Ika & Islam

Oleh : Bhakti Aditya P.,S.ST.

(Islamic Social Worker/Aumni STKS Bandung)
Aksi 411 dan 212 yang telah menggetarkan hati kita menunjukkan betapa dahsyatnya persatuan umat. Seluruh rangkaian aksi tersebut tujuannya satu, menekan penguasa agar segera menangkap Ahok dan mengadilinya atas perbuatan penistaan agama yang dilakukannya beberapa waktu yang lalu. Kisah heroik dan mengharukan pun terus ditulis oleh para peserta aksi, tidak sedikitpun tulisan yang menggambarkan situasi yang tidak kondusif apalagi seperti yang dituduhkan oleh para pembenci Islam sebagai aksi makar, na’udzubillah. Aksi Bela Islam 3 yang super damai tersebut sekaligus membuktikan kepada nyinyiers dan para pembenci Islam bahwa isu Radikalisme & Terorisme hanya bualan semata. Kalaulah itu nyata, maka seharusnya kemarin menjadi hari terakhir pemerintahan Jokowi(mungkin juga hidupnya) karena dihabisi oleh (katanya) Teroris atau golongan Radikal.
Gentarnya Musuh-musuh Islam

Setelah melakukan berbagai upaya untuk menekan kaum Muslimin agar mengurungkan niatnya untuk berangkat ke Monas 212, diantaranya memboikot PO Bis, Sweeping, Surat terbang dari Helikopter, dan lain-lain, justru hal tersebut malah membuat hati kaum muslimin bersatu. Jarak 270KM yang harus ditempuh oleh ikhwan dari Ciamis menuju Aksi Bela Islam 3 menggetarkan hati kaum muslim dan juga musuh-musuh Alloh. Ketakutan mereka semakin menjadi ketika melihat kenyataan sekaligus mimpi buruk bagi mereka bahwa massa yang hadir di 212 justru membludak. Tidak kurang 7,2jt muslim hadir utk membela agamanya, membela Al-Qur’an.
Sudah hilang setengah nyawa mereka, sambil kelabakan, mereka mulai mencari alternatif lain untuk memadamkan cahaya agama Alloh ini. Diangkat lah tema untuk acara tandingan yang mengerahkan seluruh massa yang mereka punya. Mereka membuat aksi tandingan yakni Aksi Kita Indonesia yang menungusung tema “Bhinneka Tunggal Ika”.
Bhinneka Tunggal Ika;Senjata Pembenci Islam

Kalau kita mau menelisik dan mencari info soal kapan isu BTI(singkatan dari Bhinneka Tunggal Ika) ini tiba-tiba bisa muncul ke permukaan, biasanya beriringan dengan aksi yang dilakukan kaum muslimin. Seakan manusia yang paling tidak toleran adalah kaum muslimin. Setidaknya kita perlu menyadari bahwa slogan “merusak BTI” ini justru tdk cocok bila dituduhkan kepada kaum muslim. Jangan ajari kami toleransi, fakta dan bukti sudah cukup membungkam mulut mereka.

Kalau konteks BTI adalah keberagaman yang memiliki satu tujuan dalam kesejahteraan, maka justru BTI tidak akan pernah terwujud di tangan para pembenci Islam melalui Demokrasi Kapitalis sistem kufur yang jauh dari nilai-nilai kemanusiaan. Buktinya, sejak Indonesia merdeka, kapan BTI pernah terwujud? Kapan nilai-nilai Pancasila teraplikasikan di tengah-tengah kehidupan masyarakat? Justru setiap rezim menamakan diri mereka paling berBTI dan Pancasilais, faktanya? BTI itu hanya untuk pemilik modal, pemilik dana. Bahkan BTI dan Pancasila selalu menjadi senjata bagi mereka untuk menekan siapa saja yang bertentangan dengan rezim tersebut(yang memang pasti pro Asing Penjajah). Sebagai contoh, Rezim Orla, kaum muslimin dikriminalisasi sedemikian rupa hingga beberapa kasus genosida pun pernah terjadi, padahal negeri ini kalau mau jujur, bebas dari penjajah buah dari pertolongan Alloh melalui para Mujahidin, mereka melakukan hal tersebut atas nama Pancasila & BTI. Orba telah membungkam siapa saja yg bicara lantang soal kezhaliman mereka, soal KKN yg mereka lakukan, dan mereka mengatasnamakan Pancasila dan BTI. Sekarang, rezim pasca reformasi, apakah sama? Ya, sama, mereka menggunakan Pancasila dan BTI utk membungkam siapa saja yg bertentangan dengan mereka, terutama kaum muslimin. Kenapa? Karena sejatinya negeri ini belum benar2 bebas dari kafir penjajah yang mereka tahu betul soal kebangkitan Islam, dan mereka tidak menghendaki itu.
Bhinneka Tunggal Ika; Terwujud hanya dengan Islam

Wahai rakyat Indonesia, muslim maupun non-muslim. Kita hidup dan terjajah di tanah yang sama. Nenek moyang kita bahu-membahu membebaskan negeri Indonesia dengan keringat dan darah mereka. Jangan terlena oleh mulut penjajah dan kroni-kroninya. Sejak dulu, “LONDO IRENG” dan orang semacamnya itu hidup ditengah-tengah kita. Kalau yang kalian kehendaki adalah kesejahteraan, kalau yang kalian inginkan adalah Bhinneka Tunggal Ika sejati dalam konteks perubahan sosial yang mendasar, kalau yang kalian harapkan adalah kehidupan yang tentram dan damai hingga anak cucu kita nanti, maka jangan berharap pada sistem buatan penjajah ini(Demokrasi Kapitalis sistem Kufur). Hanya Islam yang mampu mewujudkan cita-cita bangsa kita, hanya Islam yang mampu merealisasikan kesejahteraan haqiqi.
Cukup sejarah yang menggambarkan kepada kita bahwa 2/3 DUNIA pernah dinaungi oleh Islam dan kita tahu kebhinekaan yang ada lebih besar dari kebhinekaan di Indonesia. Namun justru yang terjadi adalah kesejahteraan yang merata, rakyatnya hidup damai berdampingan dan aman sentosa, apakah anda mengira Khilafah dihuni oleh kaum muslim saja? Tidak. Apakah kalian mengira non-muslim ditindas di Negara Islam yang sesungguhnya? Bahkan hari ini yang kita sama-sama tertindas di tanah sendiri telah membuktikan bahwa dalam sejarah Islam, tidak pernah tercatat secuil pun soal penindasan terhadap kaum minoritas, padahal keyakinan mereka berbeda dengan Islam.
Oleh karena itu, jika Bhinneka Tunggal Ika yang dimaksud bangsa ini adalah kesejahteraan dan terwujudnya nilai-nilai Pancasila, maka jawabannya bukan ada pada Demokrasi Kapitalis sistem rusak kufur buatan penjajah. Tapi jawabannya ada pada Sistem Islam, Khilafah yang pernah berjaya dan akan berjaya kembali. Mulai saat ini, detik ini, berhenti membenci Islam, wujudkan impian kita dengan Islam, hanya Islam yang akan memberikan keamanan, persamaan hak, kenyamanan, dan kesejahteraan dalam kebhinekaan. Serahkan kekuasaan kepada Islam, kesejahteraan akan menjadi sebuah keniscayaan, dan Bhinneka Tunggal Ika akan terwujud nyata dihadapan kita. Ya, Hanya dengan Islam & Khilafah.
Walloohu’alam.

​Kekuatan Ummat itu Nyata Adanya

Kekuatan Umat Nyata
Kekuatan Umat

Sebuah Catatan Perjalanan Tim Muslim Analyze Institute pada Aksi Super Damai 212
 

Setelah digelarnya aksi bela Islam Jilid 2 yang mampu mengumpulkan massa lebih dari 2 juta komunitas Muslim di Indonesia sebagai respon atas pelecehan Al-Quran yang dilakukan oleh Ahok, Aksi Bela Islam Jilid 3, dengan nama Aksi Super Damai kembali digelar. Kurang lebih 7 juta Muslim memadati Monas, Bundaran HI termasuk hingga ke Tugu Tani. Momentum inilah yang setidaknya oleh Tim Muslim Analyze Institute (MAin) mencoba melakukan investigasi sejak sebelum aksi hingga usai dan melakukan pengkajian terhadap berbagai fenomena yang terjadi selama aksi damai berlangsung. Rentetan catatan tim MAin berikut dapat dijabarkan.
 Aksi Super Damai Bela Islam Jilid 3 setidaknya cukup memberikan pengaruh dalam menggerakan massa tak terkecuali isu yang beredar. Mulanya, banyak pihak yang mengira bahwa aksi 212 tidak akan menyaingi aksi 411, dengan melihat isu yang beredar terus menghimpit dan memojokkan agar masyarakat tidak mengikuti aksi ini. Upaya untuk menghalangi pergerakan massa dari berbagai daerah menuju Jakarta pun tak luput dilakukan di berbagai armada transportasi. Ditambah pemerintah terus menambah ketakutan yang mencoba menekan jumlah massa dengan menebar isu makar, anti-kebhinekaan serta ditopang dengan munculnya fatwa haram Sholat Jum’at di jalan. Meski demikian, isu direduksi menjadi aksi doa bersama sehingga mengikis fokus tuntutan agar Ahok dipenjarakan. 
Dari pengamatan tim MAin ternyata muncul riak-riak pemantik dalam menjaga konsistensi gerak massa dan orientasi tuntutan yakni dengan kegigihan massa yang bergerak dari Ciamis. Dengan fakta perjuangan yang ada, berupa mengambil keputusan untuk berjalan kaki dari Ciamis ke Jakarta, juga hadirnya cerita-cerita perjuangan lainnya seperti antusias warga Rancaekek menanti warga Ciamis untuk memberikan keperluan logistik, beberapa foto yang menunjukkan pengorbanan massa Ciamis dan sebagainya telah meluruskan kembali haluan orientasi tuntutan massa untuk meneguhkan perasaan mereka untuk melakukan pembelaan terhadap Al-Quran sebagai wujud kecintaan yang begitu besar. Bahkan, sekalipun Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan menawarkan massa Ciamis untuk tidak melanjutkan jalan kaki dan menaiki bus ke Jakarta, massa justru menolak. Kiranya perjuangan massa Ciamis menjadi viral terutama dalam lingkup social media. Hingga akhirnya massa ummat Islam lainnya bergerak semakin dikukuhkan dengan fenomena ini.

Beriringan dengan waktu menuju acara di pagi hari dimana massa di berbagai daerah bergerak menuju Jakarta tepatnya di Monas, Bundaran HI hingga Tugu Tani, Tim MAin memulai pemberangkatan pada dini hari yakni pada hari Minggu, 2 Desember 2016. Tim MAin berangkat bersama rombongan kafilah Bandung yang mengambil peranan penting dalam momen bersatunya ummat ini, dengan kuantitas massa yang bersejarah. Namun demikian, persoalan teknis menuju ketika akan berangkat sempat menghambat Tim MAin menuju lokasi. Keberangkatan yang mestinya pukul 00.00 mengalami pengunduran waktu. Informasi yang diperoleh bahwa Bus kesulitan mencari solar dikarenakan di beberapa tempat kosong. Sejalan dengan informasi tersebut, beberapa titik pemberangkatan terhambat dengan upaya pembatalan dari PO Bus, Seperti Massa yang bergerak dari Jama’ah DT. Meski demikian, Alhamdulillah Pemberangkatan Bus dapat dinegosiasi. Dan disaat yang sama, Tim MAin beserta rombongan dapat melakukan pemberangkatan sekitar pukul 02.30 dini hari.
Dengan beberapa kejadian yang terjadi dalam upaya menahan laju pergerakan Massa, Tim MAin mendapati Bus yang ditunggangi rombongan Bandung Raya terlihat berjaga-jaga dengan situasi dan isu yang mengalir di tengah-tengah masyarakat. Dengan demikian, menjadi satu kewajaran Bus beserta Massa melakukan upaya protektif demi meminimalisir kemungkinan adanya penahanan Massa itu. Akhirnya Bus diberangkatkan dengan kondisi tertutup dengan gorden yang menutup dan lampu dipadamkan. Selain itu inisiatif Sopir Bus turut menjadi upaya antisipasi terhadap penahanan Massa dengan mengalihkan atau mencari jalur yang tidak didapati Polisi dan kemudian memasuki gerbang Tol di pinggiran kota Bandung.

Sekitar pukul 04.30, Tim MAin dan rombongan berhenti sejenak di sebuah Masjid yang berada di rest area untuk melaksanakan Shalat Subuh. Tidak dikira nuansa pergerakan Massa menuju Jakarta begitu terasa. Bus-bus pun mulai terlihat memadati jalanan yang menandakan Massa Bela Islam Jilid 3 siap untuk turun aksi. Tak terkecuali Massa yang hendak sholat di Masjid tersebut turut memadati hingga antrian wudhu cukup panjang. Usai Shalat, Perjalananpun dilanjutkan dengan sedikit sarapan pagi sebagai perbekalan fisik agar fit dalam mengikuti dan melakukan investigasi sepanjang aksi Bela Islam Jilid 3 ini. Hingga sampai memasuki Kota Jakarta, jalanan riuh-riuh dengan berbagai kelompok massa yang berdatangan dari berbagai arah. Sepanjang mata memandang -dengan putaran 360 derajat-dari segala sisi Bus yang dinaiki Tim MAin akan didapati Massa yang terus melakukan pergerakan menuju area Monas, HI dan Tugu Tani atau bahkan beberapa area yang Tim MAin tidak sebutkan. Fenomena ini mengingatkan kita terhadap nuansa pergerakan dimana masyarakat turun di jalanan dan mengerahkan berbagai kebutuhan logistik untuk keperluan Massa Aksi.

Berbagai lontaran yel-yel shalawat, takbir, tahlil, orasi tangkap ahok!, Penjarakan ahok! begitu menyemarakkan dan membangkitkan semangat pertentangan terhadap sebuah ketidakadilan atas identitas Islam yang dilecehkan. Massa mengalir deras dan membanjiri jalanan hingga membludak seolah Jakarta tak bisa lagi menampung Massa Bela Islam jilid 3 ini, seolah over capacity!. Bendera-bendera berkibar dan cukup didominasi oleh bendera tauhid, bendera komunitas Muslim yakni Al-Liwa dan Ar-Raya. Diantara mereka bahkan saling berbagi atribut Islam seperti bendera tawhid dan ikat kepala bertuliskan lailahaillallah muhamadurrasulullah. Semangat komunitas Muslim cukup mencengangkan dan menunjukan bahwa umat Islam dapat bersatu sebagai wujud kecintaannya terhadap Al-Quran, tanpa harus dibayar sepeserpun!
Ada fenomena yang menarik, sepanjang perjalanan Tim MAin dan Rombongan dari parkiran Bus menuju lokasi (luar area pagar Monas), kiranya ini menjadi gambaran bagaimana masyarakat Islam bila ia tegak dalam kancah kehidupan kelak. Fenomena yang bahkan tidak mungkin terjadi dalam masyarakat modern dewasa ini. Di antara fenomena itu adalah selain Massa berbagi keperluan atribut aksi, mereka dengan penuh antusias berbagi keperluan makanan, logistik, air, gorengan, cemilan, dan lain-lain. Cukup mudah bagi siapa saja yang ingin mendapatinya karena sepanjang jalan diantara Massa Aksi telah menunggu dan menawari makanan untuk diambil secara cuma-cuma. Sampai kiranya, mereka mencari-cari apa yang dia lihat mampu dalam memberikan sumbangsih terhadap perjuangan pembelaan Al-Quran ini walaupun tidak memiliki logistik yang mumpuni, seperti jasa ‘Pijat Gratis’ untuk memberikan kontribusi terhadap perjuangan. 
Sepanjang perjalanan, Tim MAin dan rombongan turut berbaur sebagai wujud bagian dari kaum Muslimin dan mengalirkan untaian orasi tangkap ahok dengan khas Bandungnya, “Tangkap Ahok, Tewak Ahok!” dengan dibarengi pembentangan bendera Ar-Raya yang dibentangkan selama perjalanan hingga berada di lokasi dekat Monas. Di sela-sela kerumunan, Tim MAin pun sempat mewawancarai salah satu anggota yang menjadi bagian dari Massa Madura, menurutnya memang benar adanya di lapangan terjadi banyak pembelotan, pengalihan orientasi tuntutan dan penahanan gerak Massa menuju Jakarta. Mereka terus bersikukuh agar Ahok cepat dipenjarakan saja karena sudah terlihat pemerintah seperti melindungi Ahok. Massa Madura rupanya turut termotivasi dalam aksi ini ketika melihat perjuangan Massa Ciamis yang berjalan bergerak menuju Jakarta tanpa menggunakan kendaraan dan menolak segala bujuk rayu pemerintah.
Setelah sampai di lokasi, Tim MAin dan rombongan Bandung Raya turut menata barisan untuk mempersiapkan Shalat Jum’at di lokasi. Hingga sekitar pukul 10.00, muncul kekacauan di belakang pagar Monas tempat Tim MAin duduk-duduk. Kekacauan itu muncul dari seorang provokator yang berupaya mengacaukan dan menjadikan massa rusuh. Menurut beberapa saksi Mata dari rombongan Bandung raya, provokator mengancungkan golok. Sempat terjadi perkelahian hingga akhirnya provokator tersebut digiring untuk diamankan. Massa yang hadir dan telah membariskan diri untuk bersiap Shalat Jum’at diminta agar tidak tersulut dan tidak terprovokasi.
Jelang shalat Jum’at, Massa disuguhkan dengan orasi dari beberapa anggota bahkan tokoh-tokoh massa di masing-masing daerahnya. Orasi yang menekankan bahwa tidak ada keadilan yang dapat dihadapkan dalam undang-undang manusia dan hukum manusia sempat membangkitkan salah satu peserta hingga mengatakan “KUHP, Kasih Uang Hapus Perkara!”. Dalam orasi tersebut disampaikan bahwa rupanya komunitas Muslim dapat bersatu bukan karena bayaran, dan faktanya tidak ada bayaran, akan tetapi yang mempersatukan Komunitas Muslim hingga berkumpul di Monas ini adalah karena perasaan Islam, Aqidah Islamnyang telah menyatukan mereka dengan berbagai macam latar belakangnya. Dan upaya menuntut keadilan tidak boleh tidak yakni harus mengupayakan menegakan Al-Quran dan menjadi sumber hukum dalam menegakan keadilan.
Kiranya Alam pun turut menjadi saksi atas Aksi Bela Islam jilid 3 ini, terlihat cuaca yang mendung mengitari tempat dimana massa berkumpul. Awan yang tidak terlalu gelap tampak menitikkan air halus berkali-kali turun dengan lembut. Kiranya hanya 1 menit saja air turun dengan intensitas yang sangat rendah. Kemudian Massa bersama-sama berdoa agar hujan tidak mengenai Massa. Sekejap hujan kecil itu terhenti dan awan yang tidak terlalu gelap tersebut bergeser, hembusan angin yang terasa lembut itu pun seolah meminggirkan awan sampai cahaya matahari turut menyinari kembali Massa Aksi, meski tidak terlalu terik. Kondisi ini berulang sekali lagi dan Massa melakukan hal yang sama. Hingga akhirnya, Jelang dikumandangkannya Azan, Hujan turun mengguyuri Massa Aksi dengan intensitas yang tidak terlalu deras, tidak pula rendah. Akhirnya, Massa melaksanakan Shalat Jum’at dengan dibarengi guryuran Hujan. 
Akhirnya, Shalat Jum’at menjadi titik akhir dari Aksi Masa Bela Islam Jilid 3 ini, meski demikian setelah massa membubarkan diri usai shalat, massa tetap bergemuruh memekikan takbir, tahlil, shalawat dan yel-yel tangkap ahok. Tim MAin dan rombongan pun kembali menuju Bus untuk kembali ke Bandung. Catatan terpenting dalam aksi ini adalah perasaan Islam yang cukup kuat ditengah-tengah umat Islam sehingga mampu menggerakan Umat Islam dalam aksi pembelaan terhadap Al-Quran. Kiranya bersatunya komunitas Muslim dengan perasaan Islam yang tinggi ini menjadi momentum besar terhadap daya politik umat agar dibangkitkan sehingga mampu menggenapkan perjuangan yang bermula pembelaan terhadap Al-Quran menuju pembelaan akan kemuliaan Muslim dan Al-Quran itu sendiri agar mampu dijadikan cara hidup dalam bermasyarakat. Akhirnya, Perjuangan 212 tidaklah berakhir, akan tetapi menjadi langkah awal untuk menggenapkan perjuangan menuju tegaknya Al-Quran sebagai sumber hukum yang memberikan keadilan dan penjagaan terhadap kemuliaan Al-Quran itu sendiri. Maka tidak menutup kemungkinan, Komunitas Muslim mendapatkan posisinya kembali sebagai pemilik kekuasaan dan menjadikan dirinya sebagai panduan bagi umat lainnya hingga terasa Islam sebagai Rahmaan Lil Alamin.

Aksi 212 Bukan Belajar Demokrasi ; Tanggapan atas Kultwit Anis Matta

No democracy we want Islam
No democracy we want Islam

Pasca aksi 212, Anis Matta,  salah seorang tokoh partai Islam, membeber analisis melalui kultwit bahwa aksi damai tersebut menjadi bukti kompatibilitas Islam dan Demokrasi. Keberhasilan umat Islam berkumpul dalam jumlah ekstra besar untuk sebuah protes tapi berjalan dengan damai dan rapi merupakan “kemajuan berdemokrasi yang harus kita catat dan kita apresiasi”. 

Ia menyebut aksi 212 sebagai fenomena “nilai luhur agama dan demokrasi yang tumbuh berdampingan”. Meski demikian, ia menyarankan “umat Islam tidak boleh berhenti belajar, tentang demokrasi dan etika politik”.
Tak sepantasnya seorang tokoh Islam semacam Anis Matta beropini demikian. Sangat menyakitkan perjuangan dan persatuan umat yang digalang para tokoh Islam dalam memprotes penghinaan Al-Quran diletakkan dalam konteks kemajuan demokrasi. Penghinaan yang keterlaluan.  Berikut ini catatan atas opini tersebut:
Tidak benar kesimpulan bahwa aksi 212 adalah indikasi kemajuan demokrasi. Sebab akan bermakna menjadikan tolok ukur kemajuan demokrasi hanya pada kemampuan rakyat jelata untuk tetap damai tidak anarkis meski sedang marah. Karenanya kosa kata sakral dalam demokrasi adalah damai. Setiapkali rakyat bisa protes sambil damai, selalu dipuji sebagai pertanda kemajuan demokrasi. Sebaliknya jika anarkis, kemunduran demokrasi. 
Kalimat ini tak jujur karena hanya fokus pada satu pihak tidak memperhatikan pihak lain.  Mereka tidak melibatkan pihak yang diprotes (aparat) sebagai indikasi perkembangan demokrasi. Seharusnya aparat yang bandel bahkan represif dalam menghadapi pendemo, disertakan sebagai indikasi kemunduran demokrasi. Sehingga jika dilihat secara makro, damainya pendemo sebagai sisi kemajuan dan represifnya aparat sebagai sisi kemunduran menyebabkan kesimpulan global tak ada kemajuan apa-apa. Demokrasi berjalan di tempat. 
Pandangan yang dibangun di atas prinsip melihat sisi damainya demo tapi menutup mata terhadap represifnya aparat, merupakan pandangan khas Barat. Sebab Barat punya kepentingan dengan damainya pendemo, sebagai kondisi ideal untuk menguasai rakyat dengan piranti Demokrasi. 
Lagi pula, fakta membuktikan bahwa demo yang ricuh kerap memiliki dampak lebih ampuh dalam menyampaikan aspirasi dibanding damai. Kericuhan akan dimaknai kuatnya aspirasi, lalu diliput media massa secara kuas, lalu hal itu menekan aparat terkait untuk melaksanakan poin yang dituntut pendemo. Berarti secara misi, boleh jadi cara ricuh lebih mujarab dan ampuh. 
Umat Islam harusnya hanya fokus melihat kekuatan umat Islam. Semakin efektif dalam menyampaikan pesan, kadang dengan strategi damai, kadang dengan trik ricuh, itu pertanda kemajuan umat Islam. Intinya aspirasi dilaksanakan. Apa urusannya Islam dengan demokrasi yang maju, jika itu bermakna aparat lebih leluasa berbuat zalim terhadap umat akibat umat hanya mau jalan damai. 
Dengan demikian, damai atau ricuh itu hanya soal pilihan dalam menyampaikan aspirasi. Sama sekali bukan pertanda kemajuan demokrasi. Sebagaimana represifnya aparat tak pernah dihitung sebagai pertanda kemunduran demokrasi.
Kebanggan umat Islam adalah jika kuat dan bisa membawa Islam sebagai pemenang, dan kekuatan batil tumbang. Tak ada kebanggaan apapun jika Islam terhina tapi demonya dipuji sebagai kemajuan demokrasi. Persetan dengan apapun yang bukan Islam. Umat Islam hanya bangga dengan Islamnya. 
Pandangan ala Anis Matta yang mata-demokrasian sangat berbahaya. Saat umat Islam damai, disebut pertanda kemajuan demokrasi. Saat ada yang mengeksekusi penista Al-Quran pasti akan disebut kemunduran demokrasi. Padahal itu hal yang baik dalam sunnah Nabi. Pilihannya cuma dua; mencari ridha Allah ataukah ridha demokrasi. 

@elhakimi